Judul : Martin Luhter
Penulis : Dorothy Irene Marx
Penerbit : Literatur Perkantas
Cetakan : Februari 2012
Tebal : 241 hlm

Tadinya saya mengira buku ini merupakan biografi Martin Luther, ternyata tidak!, memang di bab pertama buku ini dikisahkan perjalanan hidup Martin Luther hingga akhir hidupnya. Namun setelah penulisnya menuntaskan kisah kehidupan dan perjuangan Martin Luther sebagai reformator Gereja, penulis melanjutkannya dengan beberapa ajaran Martin Luther yang hingga kini masih dipakai sebagai pokok-pokok pengajaran teologi khususnya bagi para Lutheran dan gereja-gereja injili.

Seperti diungkap di atas di bab pertama buku ini kita akan melihat bagaimana kehidupan Martin Luther dari seorang terpelajar biasa menjadi seorang tokoh reformator gereja. Tuhan terkadang memanggil umatnya untuk menjadi hamba-Nya dengan cara yang unik. Melalui sebuah peristiwa alam yang mungkin bagi orang lain tampak biasa-biasa saja, Luther memutuskan tekadnya untuk menjadi seorang rahib.

Tuhan memangil Luther melalui sebuah petir yang menyambar tepat di depan kakinya.  Ketika itu Luther sedang dalam perjalanan untuk melanjutkan studinya. Ketika melewati hutan terjadilah hujan angin disertai petir dan guruh. Tiba-tiba kilat menyambar di depan kakinya. Saking kagetnya ia berteriak “Tolong, Santa Anna! Aku bersedia menjadi seorang rahib”

Semenjak itu kehidupannya berubah drastis dan Martin Luther akhirnya memang menjadi seorang rahib yang haus akan kebenaran Firman Tuhan. Buku ini  kemudian mengisahkan perjuangan Martin Luther yang secara berani mereformasi Gereja di bawah kekuasaan mutlak Paus dan tradisi gereja yang menyimpang kepada kebenaran yang hanya terdapat dalam Alkitab. Puncaknya adalah ketika Luther dengan berani  menancapkan 95 dalil Luther di pintu gereja-gereja di Jerman

Setelah mempelajari perjalanan hidup serta perjuangan Martin Luther, di bab-bab selanjutnya penulis mengupas beberapa aspek dan ajaran Martin Luther. Di bab 2 dikupas bagaima pandangan Martin Luther terhadap musik gerejawi. Martin Luther sangat menyukai musik karena musik merupakan anugerah Allah.  

“Aku menyukai musik karena dikaruniakan bukan dari manusia melainkan dari Allah” (hlm 72).

Bagi Luther, kekuatan musik dianggap mampu menjamah dan menggerakkan manusia sehingga menjadi alat pemberitaan Injil yang ideal.

“Musik yang dipersatukan dengan Firman Allah mampu mempengaruhi banyak orang bahkan mengubah mereka secara luar biasa” (hlm 74)

Di Bab 3, penulis mengetengahkan buah pena Martin Luther yang terkemuka antara lain dengan diterbitkannya tulisan-tulisan Luther yang terpenting sebagai karya reformasi pada tahun 1520. Juga tulisan tentang pekerjaan-pekerjaan baik dimana 10 hukum menjadi dasar bagaimana iman ditanamkan di dalam kehidupan orang percaya.

Dalam tulisan-tulisannya itu dengan tegas Luther menyatakan bahwa kepausan di Roma adalah “antikris” yang sebenarnya. Dalam salah satu kotbahnya di hadapan kaum bangsawan jerman (1520), Luther menolak otoritas Paus sebagai pemimpin dunia, menolak Paus sebagai penjelas Alkitab terbaik, mencela korupsi pemimpin gereja, serta menekankan kembali imamat bagi semua orang percaya dan menciptakan seuatu program untuk reformasi gereja.Selain itu dalam salah satu tulisan, Luther mengurangi 7 sakramen menjadi dua sakramen yaitu perjamuan kudus dan baptisan.

Setelah membahas mengenai tulisan-tulisan Martin Luther, buku ini kemudian beranjak ke pembahasan teologi dan etika Luther, bab 4 yang diberi judul Mengalami Kehendak Allah membahas teologi Luther tentang pembenaran, iman, pengudusan, peperangan melawan iblis, teologi dan spiritualitas.

Di bab 5. Menyingkap Kebenaran, dibahas mengenai Otoritas Alkitab dan beberapa pengakuan Iman (kredo), pengenalan Umum dan khusus tentang Allah, teologi Salib, manusia sebagai orang berdosa, Allah dalam Yesus, Trinitas, hukum dan Injil, dll.

Buku ini diakhiri di bab 6 yang membagas mengenai kekudusan di dunia sekuler dimana dibahas tentang seksualitas dan kasih, pernikahan sebagai kehendak dan pekerjaan Allah, hubungan orang tua dengan anak, dan terakhir tentang negara dimana dibahas sikap orang Kristen terhadap negara, pandangan Luther tentang perang, tatanan sosial, dan pelayanan Kristen terhadap pejabat-pejabat politik.

Jadi pada intinya buku ini menyajikan gambaran yang hidup tentang kehidupan dan ajaran Martin Luther berkenaan dengan teologi dan isu-isu etis yang Luther alami pada masanya. Semua itu ditulis dalam tuturan yang jelas dan sederhana. Hanya saja bagi yang tidak terbiasa membaca uraian teologis mungkin bab-bab akhir akan terasa sedikit rumit. Uniknya dalam buku ini penulis juga memasukkan pendapat pribadinya, jadi jika ada ajaran-ajaran Luther yang menurut penulis tidak sesuai dengan pemahaman dan keyakinannya, maka tanpa ragu-ragu penulis menyanggahnya disertai dengan penjelasannya

Dilihat dari proses kreatifnya, yang patut kita kagumi adalah kegigihan penulis dalam mengerjakan buku ini di usianya yang ke 90 tahun! sungguh suatu semangat berkarya yang luar biasa! Buku ini ditulis berdasarkan beberapa karya tentang Martin Luther antara lain karya Paul Althus, profesor Teologi di universitas Erlangen Jerman  yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robert C. Schulz, yaitu The Theology of Martin Luther dan The Ethics of Martin Luther dilengkapi juga dengan karya Frances E. Williamson yaitu, Pilgrime to Truth.

Hadirnya buku ini tentu saja semakin memperlengkapi khazanah pustaka buku-buku tentang Martin Luther dalam bahasa Indonesia yang sudah ada. Dengan membaca kisah kehidupan Martin Luther kita akan mengenal bagaimana gigih dan kokohnya Martin Luther mempertahankan keyakinannya. Dengan konsep Sola Scriptura, Sola Gacia, dan Sola Fide ia berani menentang dominasi Paus saat itu, walau ia dianggap sebagai penyebar bidah, dikutuk dan dikucilkan oleh Paus bahkan nyawa menjadi taruhannya.

Ketika Luther melalui segala macam ancaman dan kutukan, kita akan melihat bagaimana Allah bekerja dengan cara-Nya, menginpsirasi kawan-kawan Luther untuk menyelamatkan hamba-Nya sehingga Luther akhirnya selamat dan menjadi reformator gereja.

Sedangkan melalui ajaran-ajaran Luther yang diuraikan dalam buku ini kita akan melihat bahwa ajaran-ajarannya tersebut  masih relevan bagi generasi masa kini.  Kiranya buku ini bisa menjadi seruan dan inspirasi bagi kita semua untuk tetap teguh memperjuangkan dan memelihara iman kita di tengah banyaknya ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Firman Tuhan.

Sola Scriptura, Sola Gratia, Sola Fide!