Amazing Grace – chapter 1

Sinopsis…

Bertempat di sebuah Gereja beraliran kharismatik, dimana terdapat istilah WL (Worship Leader), yang adalah orang yang bertugas menjadi leader / pemandu jemaat dalam puji-pujian dan penyembahan dalam sebuah kebaktian. Untuk Gereja karismatik, WL merupakan posisi yang cukup berpengaruh dalam ibadah dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi WL.

Saat seorang perempuan muda datang ke Gereja tersebut, beberapa hal unik terjadi dalam kehidupan pelayan-pelayan didalam Gereja. Kehidupan kelam perempuan itu menghantarkan dia ke dalam sebuah penolakkan terselubung dari teman-teman sepelayanannya.

Namun sang Pendeta muda dalam Gereja itu tetap mempercayainya sehingga perempuan itu tetap bertahan. Ia sangat merasa tak layak. Ia bahkan belum sepenuhnya terlepas dari kehidupan lamanya. Jatuh bangunnya dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidupnya, tak pelak membuatnya sangat tersiksa. Sebagian orang merasa kalau ia pantas mendapatkan ganjaran yang setimpal atas semua perbuatan yang ia lakukan di masa yang telah lalu.

Saat ia mulai mencintai seseorang, orang itu tiba-tiba pergi dan meninggalkannya dalam kelemahan. Ia hampir jatuh, belum lagi ia harus menerima kenyataan yang pahit; kanker paru-paru. Hukum “tabur tuai” pun terjadi dan membuatnya lemah secara lahir.

Akankah kehidupannya berlanjut dalam kelemahan? Ataukah ada mujizat terjadi atas penyakitnya?

———————————————————

 

Amazing Grace

By: Eva Sumasa

Chapter 1…

 

Dengan tertatih, Grace Revelina berjalan ke depan cermin yang ada dilemari besarnya. Kepalanya terasa pusing hari ini. Ia berdiri didepan cermin besar itu dan memandangi image seorang wanita. Tinggi, putih pucat, matanya sayu dengan lingkaran hitam dibawahnya, tubuhnya kurus, dan ada bekas sayatan dikedua tangannya.

Lalu ia melihat ke sekeliling. Kamarnya luas bercat putih. Saat masuk pintu, akan terlihat ranjang di ujung kanan, tepat didepan ada sebuah lemari besar tiga pintu. Disamping ranjang itu terdapat sebuah makas dua laci dengan lampu tidur diatasnya. Di kiri terdapat sebuah rak sepatu kecil berisi sneakers dan high-heels yang tak pernah dipakai olehnya.

Ia memperhatikan bekas sayatan ditangannya. Beberapa sayatan di tangannya terlihat masih baru, namun sudah tak berdarah lagi.

Diatas meja tersebut juga terdapat berbagai buku kuliah serta sebuah kaleng tinggi yang berisikan pensil, polpen, gunting, cutter, dan beberapa perkakas lainnya. Namun Gege memandang getir pada cutter itu. Di cutter itu terdapat bekas darah kering. Tangan Gege terkepal melihatnya. Ia mengangkat tangannya dan melihat setiap urat yang menonjol, berikut luka sayatannya.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Seseorang menelepon tanpa ada keinginan dari Gege untuk menjawab telepon itu.  Terbersit rasa penasaran dalam kepalanya tentang yang menelepon tadi. Ia meraih ponselnya yang terletak diatas meja dan menemukan 6 missedcalls dari orang yang sama.

Egy.

Kakaknya Gege adalah Egy. Pria berumur 27 tahun. Suka dunia malam tetapi tidak bermain perempuan. Ya tidak bermain perempuan, tapi dia mempermainkanku!!!

Sakit hati, dendam dan amarah sudah bercampur menjadi satu dalam hati Gege. Egy yang membuat hidupnya seperti ini. Egy yang sudah menjerumuskannya dalam dunia narkoba.

Seringkali Gege bertanya, apakah Tuhan itu seperti ini? Ia merasa hidupnya tidak pernah adil. Menyaksikan ibunya sendiri meninggal karena tabrakan, kakaknya yang memaksanya memakai narkoba, dan… Gege langsung menghilangkan pikiran itu dan mematikan ponselnya. Ia tak ingin diganggu siapapun malam ini.

 

Moses berusaha meneleponnya berkali-kali, tetapi ponsel Gege tidak aktif. Moses kesal sekali. Sudah lama Moses dan rekan-rekan lain menunggu tetapi belum ada tanda kehadiran Gege.

Apa yang sebenarnya teman-teman lihat dari Gege? Lihat saja gayanya. Slengean, kurus, seperti tidak makan satu minggu. Rambutnya yang panjang membuat dirinya lebih “horror”. Moses tidak menyukainya, dan benar. Atau memang ia pemakai narkoba?

Saat itu, pendeta muda James memanggil Moses yang merupakan Worship Leader dalam Gerejanya (WL). “Kamu kudu ajak Gege! Dia punya suara bagus banget, Ses. Kamu pasti suka. Dia bisa jadi WL juga, membantu kamu kalau kamu berhalangan. Atau kamu bisa ajak dia jadi WL sama-sama waktu kebaktian.” Moses tidak menyukai keberadaan Gege, bukan karena ia merasa tersaingi karena ada orang yang memiliki suara bagus selain dia. Tetapi lebih-lebih karena kehidupan dan gaya Gege yang berantakkan dan “horror”.

Lalu tiba-tiba Gege berjalan masuk, ia membuka pintu dengan hati-hati dan menutupnya dengan pelan.Moses melipat tangannya di dada sambil memandang Gege yang berjalan dengan kepala tertunduk dihadapannya.

“Guys,” katanya pelan. “Sori aku telat. Tadi aku ada penting sebentar.”

“Hmm, ya udah, nggak apa-apa,” kata Moses buang muka. Padahal hatinya mendidih karena Gege datang terlambat.

Dari awal, Moses memang tidak suka pada Gege. Hatinya panas, selalu. Ia jarang menghiraukan Gege kalau Gege bertanya. Bahkan sekedar lewat pun, Moses tidak pernah ingin bicara atau bersamalam dengan Gege.

Entah kenapa aku nggak suka sama orang ini. Karena aku nggak suka, jadi kesalahan dia yang kecil jadi besar di mata aku. Tapi siapa emang yang mo suka sama dia? Cewek aneh. 

Mereka latihan disebuah ruangan yang cukup luas. Saat memasuki pintu masuk akan terlihat alat-alat musik lengkap dengan soundsystem si debelah kanan depan. Ditengah terdapat mimbar, sedangkan samping kiri terdapat layar LCD TV yang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk ruangan itu.

Gege dan Moses langsung maju ke mimbar dan mengambil mic masing-masing satu.

Sebelum mereka latihan, Daniel sang keyboardist berkata pada Moses, “bro, pas ibadah Youth ntar si Gege mimpin bagian praise-nya. Jadi elu bagian worship.”

Moses tersentak, biasanya ia mendapat bagian praise. Hal itu tidak menjadi masalah yang panjang dalam hatinya. Ia tidak habis pikir, kenapa Gege yang mendapat posisi itu. Biasanya ialah yang mendapat praise.

Siapa sih yang nyusun jadwal?! Anyone… sama siapa aja aq mau dipasangin. Asal jangan sama dia!

Latihan itu berjalan mulus walaupun sesekali Moses melayangkan raut wajah tidak senang pada Gege. Gege menyadari hal itu, tetapi ia terus diam dan tidak memperdulikan hal tersebut dan terus bernyanyi.

Namun, entah kenapa hari ini rasanya begitu dingin. Gege merasakan dingin dikepala, tetapi ia tidak merasakan dingin ditubuhnya. Hanya kepala. Tubuhnya berkeringat tetapi kepalanya tidak. Dadanya mulai sakit. Memang benar, belakangan ini, setiap subuh, Gege selalu bangun karena merasakan nyeri di dada. Dan beberapa hari ini terkadang ia batuk sangat keras. Mungkin karena ia kelelahan, pikirnya. Selama ini, pekerjaannya memang menuntutnya bekerja lebih. Naskah-naskah novel sekuel dan cerpen harus ia selesaikan bulan ini, hingga seringkali Gege tidak tidur demi menyelesaikan naskah tersebut.

Setelah semua rangkaian latihan berakhir, satu per satu rekan-rekan sepelayanan pamit untuk pulang, dan sebagian bermain di sebuah kamar di pastori yang terletak dibagian atas Gereja. Hanya Gege yang masih bertahan disitu.

“Ge, kamu yakin mau tinggal dulu? Nggak ikut anak-anak?” Tanya Daniel sebelum menutup pintu.

Tanpa bersuara, Gege hanya mengangguk sambil tersenyum. Pintu ditutup dan ia sekarang sendirian. Tempat ini, terasa begitu damai. Gege memandang sekeliling, dan menyentuh setiap alat-alat dalam Gereja. Wajahnya tersenyum.

Lalu ia memandang sebuah wallpaper salib besar di mimbar. Ia memperhatikan salib itu dan terpana pada satu Sosok Yang Tergantung dengan Darah dan Bilur yang mengucur. Ini hanya gambar, tapi, kenapa? Ada sesuatu yang aneh ketika ia melihat gambar ini. Lalu ia teringat detik-detik bersama ibunya. Ia teringat saat ibunya sedang bedoa dan menyebutkan namanya. Ia ingat saat ibunya memasak sambil tersenyum. Ia ingat bagaimana ibunya tidak pernah meninggalkan dia saat dia sakit.

Gege terus bertanya-tanya pada gambar itu, kenapa ia berhak menerima pengorbanan yang begitu besar? Memori-memori indah, yang masih terekam dalam ingatannya itu masih hangat. Tak pernah terbayangkan dalam ingatannya kalau ia akan kehilangan ibunya dalam waktu sekejap.

Hari ini, tepat tiga bulan sudah, ibunya pergi menghadap Bapa di Sorga.

Gege lalu duduk bersila dilantai mimbar itu dan mengambil salah satu microphone yang tergeletak. Ia tahu kalau Moses tidak menyukainya. Ia tahu kalau beberapa orang disini tidak menyukainya. Apa hal ini yang mesti ia terima? Terlalu banyakkah kesalahan yang ia perbuat sehingga manusia menghukum dirinya seperti ini? Terlalu burukkah perilakunya sebagai seorang manusia? Ibunya juga meninggalkannya disaat ia memerlukan kehadiran seorang ibu.

Perasaan tertekan seperti ini, seperti ada mata-mata yang menyorotkan tuduhan seperti hujaman belati yang menembus dada tepat di jantungnya. Ia ingin bercerita pada ibunya, tetapi tidak bisa! Ibunya sudah tidak ada, dan Gege mulai bingung apa yang harus ia perbuat. Semua yang ia lakukan seakan-akan selalu salah. Tidak ada lagi tempatnya mengadu, tidak ada lagi yang bisa menyentuhnya dengan belaian tangan yang hangat dan lembut serta penuh kasih sayang.

Oh Tuhan, inikah hukuman dariMu? Aku memang nggak pernah menurutiMu. Sepanjang tahun-tahun yang kulalui, aku hanya pernah ke Gereja satu kali setahun saat natal. Ibuku selalu menyuruhku ke Gereja, tapi aku bandel. Aku nggak mau.

Terus terang, aku ke Gereja ini hanya kerena mama. Aku tahu, walaupun aku ke Gereja 10.000 kali pun, mama nggak akan pernah ada lagi. Tetapi sekarang, aku baru saja masuk ke lingkungan Gereja. Kenapa Kau menempatkan aku diposisi seperti ini? Kenapa Kau mengikatku dengan cara seperti ini, Tuhan? Apa aku pantas? Apa aku bisa? Aku bahkan nggak tahu caranya melayani. Kini mama telah Kau ambil! Aku ingin sekali pergi beramanya, ya Tuhan, aku sendirian… aku sendirian… aku sendirian!

Gege berlutut lalu menangis, ia ingin sekali menyakiti dirinya sendiri saat ini. ia menangis dan berlutut tepat didepan wallpaper salib tersebut.

Siapakah aku ini ya Tuhan?! Siapa? Yang kulakukan hanyalah terus menerus menyakiti mama, dan… menyakitiMu!

Aku tahu tetes-tetes air mata ini nggak akan mengubah segalanya, Bapa. Bolehkah aku memanggilMu Bapa? Bapa yang selalu kurindukan? Bapa yang sempurna dan selalu setia tanpa pernah meninggalkanku seperti mama? Aku tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayah dalam hidupku. Apakah Kau mau menjadi Bapaku?

“Tuhan…. Kumohon jawab aku,” kata Gege dalam lirihnya deraian air mata penuh dosa dari matanya. Lalu tiba-tiba ia merasa hangat. Sesuatu terjadi. Tetapi apa?

 

——-to be continued——

« »

© 2022 LilinKecil.Com. Theme by Anders Norén.