Buku yang aslinya berjudul “Five Pioneer Missionaries” ini diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Momentum di dalam lima jilid. Salah satunya diberi judul “David Brainerd: Misionaris Bagi Suku Indian Amerika”.

David Brainerd lahir pada tanggal 21 April 1718. Orang tuanya mempunyai 5 orang putra, 4 di antaranya menyerahkan hidup untuk memberitakan Injil dan 3 orang dari mereka meninggal pada usia muda. Yang satu meninggal pada usia 27 tahun. Satu lagi meninggal 6 tahun kemudian ketika masih mahasiswa. Dan David Brainerd sendiri meninggal pada usia 29 tahun. Ada 3 kisahnya yang sangat berkesan bagi saya:

Pertama, kisah pertobatannya. Sekalipun sudah lama menjadi orang Kristen, tapi ia merasa belum sungguh2 diselamatkan. Ia sering berjalan sambil berdoa dengan perasaan tertekan karena merasa terancam hukuman kekal. Ia berpikir bahwa kalau ia bisa merasa hancur luluh karena dosa, rendah hati, penuh kasih dalam berdoa, tunduk pada apa pun yang dilakukan Tuhan pada dirinya, dan menerima sepenuhnya ajaran Alkitab, barulah ia yakin telah diselamatkan. Sampai ia menyadari bahwa keselamatan berada di luar kemampuannya sendiri dan semua kegiatannya seperti berdoa, berpuasa, dan lain-lain adalah sia2 karena untuk kepentingan diri sendiri. Akhirnya pada usia 21 tahun, ketika sedang berjalan dan berdoa, tiba2 terang surgawi memancar dalam jiwanya. Ia tidak melihat cahaya, tapi suatu pandangan yang baru tentang Allah muncul dalam hatinya: kemuliaan Ilahi. Dia diam, tertegun, kagum! Dia merasa ditelan seluruhnya ke dalam Tuhan sampai hampir tidak menyadari ada makhluk seperti dirinya! Dan karena peristiwa itu, Brainerd memiliki kerinduan kuat untuk mempermuliakan Tuhan.

Membaca kisah pertobatannya membuat saya berpikir betapa “gampangan”nya dan sembarangannya banyak orang Kristen hari ini! Kita menawarkan keselamatan yang gampangan (cukup sebut “saya mau percaya Yesus”) dan orang2 menerima keselamatan yang gampangan! Hasilnya tidak ada keseriusan mengikut Tuhan, tidak ada kerinduan untuk mempermuliakan Tuhan. Saya tidak bilang “mari kita mempersulit Injil” tapi kita sering membuat Injil terlalu murahan.

Kedua, kisah pendidikannya. Ia belajar sangat keras selama menjadi mahasiswa di Yale dan menjadi mahasiswa terbaik di kelasnya. Tetapi ketika hampir lulus, sesuatu terjadi (kisahnya panjang) dan Brainerd dikeluarkan dari Yale. Di salah satu gedung asrama mahasiswa di Yale hari ini, terpampang inskripsi “David Brainerd, angkatan 1743”. Gedung ini dibangun oleh Yale untuk menghormati Brainerd yang pernah dipermalukan dan dikeluarkan dari universitas itu.

Orang pandai ini bisa menikmati penghormatan dengan prestasi akademiknya, tapi dengan cara yang ajaib Tuhan mengarahkan dia pada jalan hidup yang lain. Dan nama Brainerd hari ini dikenal karena pekerjaan misinya dan bukan prestasi akademisnya.

Ketiga, kisah komitmennya. Ia melayani orang2 Indian di ladang yang sangat sulit. Penderitaan fisik bertubi2 ia alami sampai akhirnya ia meninggal di usia muda. Penderitaan batin ia terima – kesepian luar biasa, penolakan, kesedihan. Dan saya tidak bisa tidak terharu membaca tulisannya di titik balik terakhir hidupnya. Ia sudah sakit2an, ia tahu akan mati kalau terus hidup seperti itu, dan ia juga ingin menikah (ia menjalin hubungan dekat dengan anak dari Jonathan Edwards). Dia membayangkan hidup yang bahagia kalau ia menetap dan membangun keluarga, tapi akhirnya dia menulis:

Namun kini pemikiran2 ini hancur berkeping2, bukan dengan paksa, melainkan dengan pilihan sukarela; sebab saya merasa bahwa Allah telah bekerja dalam hidup saya untuk mempersiapkan saya untuk hidup dalam kesendirian dan penderitaan, dan bahwa saya tidak akan kehilangan apa2 dalam hal yang terkait dengan dunia, jadi saya tidak rugi apa pun bila saya melepaskan semua keinginan itu.

Bagi saya adalah baik bila saya miskin, tanpa rumah dan keluarga, tanpa kenyamanan hidup yang dinikmati umat Allah yang lain, untuk mana saya bersukacita bagi mereka. Namun bersamaan dengan ini saya melihat begitu banyak kemuliaan kerajaan Kristus dan begitu kuat kerinduan untuk memperluasnya di dunia, sehingga hal ini menelan semua pemikiran saya yang lain, dan membuat saya rela, ya bahkan bersukacita, untuk menjadi musafir yang sendirian di padang belantara sampai akhir hayat saya, asalkan saya boleh mengambil bagian dalam pekerjaan yang indah dari Penebus saya yang agung.

Sekarang saya berikrar untuk mempersembahkan jiwa saya kepada Allah untuk melayani Dia sepenuhnya. Segenap pikiran dan kerinduan saya menyerukan, “Ini saya, Tuhan, utuslah saya, utuslah saya sampai ke ujung bumi, utuslah saya kepada bangsa kafir yang liar dan ganas di padang belantara, utuslah saya menjauhi segala sesuatu yang dinamakan kenyamanan di bumi, atau kenyamanan duniawi, utuslah saya bahkan kepada maut sekalipun, bila itu dalam pelayanan bagi-Mu dan untuk memperluas kerajaan-Mu…

Perkampungan yang tenang, tempat tinggal yang tetap, persahabatan yang lembut, yang saya harap akan saya nikmati bila saya memilih keadaan itu, kelihatan sangat berharga bagi saya bila dipertimbangkan secara tersendiri, namun bila dipandang dalam perbandingan, ini seolah-olah tak ada artinya… Kendati itu berarti saya akan kehilangan semua yang lain, saya tak dapat berbuat yang lain, sebab saya tidak dapat dan tidak mau memilih yang lain.

Atas pilihan saya sendiri, saya terpaksa mengatakan, “Selamat berpisah, teman2 dan kenyamanan duniawi, juga yang paling saya kasihi, bila Tuhan memintanya: selamat tinggal, selamat tinggal; saya rela menghabiskan hidup saya sampai saat terakhir, dalam gua2 dan celah2 gunung di bumi, bila dengan demikian kerajaan Kristus dapat di perluas”.

Kalau anda tidak tergerak dengan tulisan di atas, maka mungkin ada yang salah!

Brainerd bukan saja mempertobatkan banyak orang Indian, tetapi pelayanannya dan tulisannya mempengaruhi sangat banyak misionari2 Kristen, Dan dengan tulisan di atas, Brainerd memutuskan menghabiskan sisa hidupnya di ladang misi. Ia berikan dirinya sepenuhnya sampai habis untuk Tuhan.

Buku ini cukup kecil dan cukup tipis, hanya 121 halaman. Secara penulisan, saya kira cukup baik. Saya hanya kurang menikmatinya karena ini versi terjemahan. Tapi kisah Brainerd sendiri membuat saya speechless.

source : http://jeffreysiauw.blogspot.com/2013/02/david-brainerd-john-thornbury.html