[Resensi] Pulau Setan | John Hagee

Judul Asli : Devil’s Island

Penulis : John Hagee

Penerbit : Metanoia Publishing

Ukuran buku : 21cm x 14.5cm x 3cm

Pada masa itu keadaan politik Efesus di bawah pemerintahan Kaisar Domitian sedang bergejolak. Barangsiapa yang berani menyangkali ketuhanan kaisar, akan diasingkan ke pembuangan di sebuah pulau, atau bahkan dijatuhi hukuman mati. Abraham dan keluarganya adalah Kristen abad mula – mula yang sangat mengasihi Tuhan, Yesus yang disebut Kristus. Setidaknya begitu, kecuali putri pertama mereka. Naomi sungguh seorang gadis yang ambisius dan egois, terutama setelah kematian Crispin, suaminya, kepahitan terhadap Abraham semakin dalam menusuk relung hatinya. Naomi akan melakukan apapun untuk mimpi – mimpinya, apapun!

Saat perwira Roma itu, Damian menawarkan dupa sebagai persembahan kepada kaisar, dengan tegas putranya Jacob menolak dan berkata bahwa kesetiaannya hanya kepada Yesus, disusul oleh Yohanes, rasul tua itu yang akhirnya mengakibatkan mereka berakhir di pembuangan. Saat cawan itu menghampiri Abraham, ada keraguan menyelimutinya. Dia menatap istrinya nanar dengan perkataan maaf yang tak terucapkan, dan Elizabeth melihat dengan ketakutan.

“Dia tak akan melakukan itu, pasti dia tak mungkin bertindak sejauh itu… menyangkal Tuhan..”, pikir Elizabeth menenangkan dirinya. Elizabeth tenggelam dalam kepedihan dan memohon ampun kepada Allah atas jiwanya. Baru saja dia melihat putrinya Naomi mempersembahkan korban kepada kaisar, dan kini suaminya. Suami yang sejak semula sangat mendukung pelayanan putranya Jacob dan Yohanes, rasul yang didampinginya. Dan karena hal itulah Elizabeth jatuh hati padanya, tapi sekarang?

“Yesus adalah Tuhan! Aku tidak mengenal Tuhan yang lain!”, teriak Rebecca, putri bungsunya mantap. Dalam usianya yang semuda itu, keyakinannya kepada Tuhan tidak luntur dengan mudah, walaupun dia sendiri tidak tahu seperti apa hari – hari yang akan dihadapinya nanti di pembuangan. Dalam sekejap mata, keluarga yang tadinya sangat bahagia ini pun tercerai berai, dan seolah kehilangan harapan untuk menghadapi masa depan mereka.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya dengan Elizabeth? Akankah ia juga tetap pada kesetiaannya, sekalipun dengan mata kepalanya ia melihat putrinya diperlakukan secara kurang ajar oleh perwira Roma tersebut? Bagaimana dengan Abraham sendiri? Seperti apa perasaannya setelah menyangkal Tuhan, padahal ia sudah menjadi orang percaya selama berpuluh – puluh tahun? Apa yang akan dilakukan Naomi setelah semua kejadian yang menimpa mereka? Dan bagaimana dengan Peter, saudara kembar Jacob yang sangat pendiam dan lemah serta tidak banyak ambil bagian dalam keluarga tersebut?

Novel fiksi rohani yang sangat menarik dan layak untuk dibaca. Dengan bahasa yang mudah dimengerti, tapi tidak mengurangi esensinya. Latar belakang sejarah Efesus dan Roma yang sangat mempesona, dengan lukisan tentang alamnya akan membuat kita takjub bahkan terkagum – kagum. Dan juga dikisahkan bagaimana rasul terakhir, Yohanes, menuliskan pewahyuan dari Tuhan ke dalam gulungan kertas yang kemudian kita kenal dengan nama kitab Wahyu. Dibumbui intrik yang tajam, mengisahkan gambaran sederhana sebuah keluarga Kristen yang hidup pada kurun waktu 95 M. Berjuang untuk iman, cinta, dan keluarga bahkan juga bergulat dengan penganiayaan, pengkhianatan keji dan pembalasan dendam dari masa lalu.

John Hagee menuliskan semuanya dengan sangat cemerlang. Pemilihan kata – kata yang tepat, menyeret kita menembus ruang dan waktu, seakan kita turut berada di sana dan menjadi saksi peristiwa berabad abad silam. Dengan piawainya, ia membuat emosi kita menyatu dengan setiap bagian yang ada di dalam buku ini. Gambaran yang sangat hidup dari orang percaya pada masa itu, sebuah pengalaman rohani yang sangat berbeda dari kehidupan Kristen era modern masa kini, yang justru banyak diperbudak oleh kenyamanan hidup. Bersiap – siaplah memasuki sebuah kisah yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sebuah perenungan tentang arti hidup yang sesungguhnya, bahwa hidup bukan hanya sekedar makan dan minum. Cerita yang sangat menyentuh tentang sebuah panggilan seperti apa seharusnya kita menghidupi hidup kita.

******************

Diresensi oleh : Jerni Tania

« »

© 2021 LilinKecil.Com. Theme by Anders Norén.