~ The Long Journey To Get MIRACLE ~

untuk Tuhan YESUS yang telah menyelamatkanku,

untuk mama yang tak pernah lelah menjaga & merawatku,

untuk papa yang selalu menangis untukku,

untuk kaka perempuanku agnes yang sudah terlahir sehat & kuat,

untuk teman-teman terbaik yang sudah menjadi ‘mini’ energy untukku : Nita, Michelle, & Gina,

dan untuk semua orang yang sudah menjadi hal baik dan buruk dalam hidupku,

~ TERIMA KASIH ~

Kisah ini aku persembahkan untuk kalian….

Based on a true story….,

”Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”

~Pengkhotbah 3:11~

Prolog…..,

Seorang gadis berusia 13 tahun, yang berharap bisa menerima mukjizat. Justru menemukan kenyataan bahwa dia harus kembali mengalami patah tulang. Bahkan sebuah patah tulang yang jauh lebih parah dari sebelumnya. Sontak semua orang yang ada diruangan itu langsung mengerumuniku.

Saat itu aku merasakan sakit hampir disetiap tubuhku. Dan saat aku melihat ke arah kakiku. Betapa terkejutnya aku, saat melihat tulang kering di kaki kananku, tinggal 1cm lagi tulangnya hampir menembus kulit dan keluar.

Sedangkan kaki kiriku, lututnya bergeser dari posisinya. Aku juga merasakan sakit pada lengan kananku, dan saat aku menoleh untuk melihatnya, tangan kananku sudah terputar kebelakang dan terkulai.

Aku sangat berharap saat itu aku langsung pingsan seketika saat melihatnya. Tapi tidak…, jangankan pingsan. Menangispun aku tidak bisa, aku hanya terpaku diam cukup lama saat melihat tubuhku yang tak lagi terlihat ‘utuh’ karena beberapa bagian tubuhku yang patah.

Apa ini ? Kenapa bukannya sembuh, aku justru mengalami patah tulang yang serius di berbagai bagian ditubuhku? Apa ini sebuah cobaan, atau sebuah tantangan yang harus aku lewati? Jika ini harga yang harus aku balas untuk keteguhan iman dan kepercayaan penuhku pada-MU, Maka aku akan berhenti percaya !

Aku akan berhenti berharap pada-MU. Aku benar-benar lelah Tuhan, aku benar-benar tidak bisa menemukan pemahaman untuk semua penderitaan yang KAU ijinkan terjadi dalam hidupku. Kesabaran sebesar apa, yang sanggup menahanku untuk tetap percaya pada-MU? jika pada keyakinan terdalamku pun, KAU masih mengijinkan hal ini terjadi padaku?

Kebenaran selalu menjadi milik-MU, tapi dari dasar lumpur dosa yang menyelimuti hidupku pun, aku akan tetap bertanya, mengapa? Aku bukan seseorang yang melakukan pembunuhan berantai, aku bukan seorang pencuri, dan aku juga bukan seorang yang sering menindas banyak orang. Tapi kenapa? Kenapa derita ini melekat kuat dalam hidupku? Setidaknya ijinkan aku tahu mengapa? Agar aku bisa menjalaninya dengan tabah….

Chapter 1

Waktu berlalu meninggalkan kenangan.

Membuat cerita, menggoreskan luka.

Mengurai air mata, saat mimpi hanya menjadi sebuah harapan.

Berlahan dunia terasa kecil untukku.

Air mata menjadi sahabat terbaikku, dan kesendirian menjadi kawan setiaku.

Tetapi saat semuanya terasa gelap, aku bisa bertahan.

Saat semuanya tak bisa ku terima, aku bisa bertahan.

Saat hidupku tak seindah yang lain, aku masih bisa bertahan.

Yaa..aku bisa bertahan.

Dan saat harapan-harapan terbaikku tergeletak hancur, aku akan tetap bernyanyi dan berseru aku percaya pada-MU…!!!

Sesaat aku kehilangan keyakinanku,

kekecewaan membuatku berhenti berharap.

Dan rasa sakit membuatku lemah.

Berlahan dunia membuatku ingin menyerah.

Kenyataan jauh dari harapan, seakan mimpiku tak bisa jadi nyata.

Tapi dalam dari itu semua, aku tahu waktu TUHAN lah yang terbaik.

Di dalam pengharapan yang sabar, aku diam dengan tenang.

Dan sampai waktu TUHAN itu tiba, aku akan memegang tangan TUHAN dengan erat melalui doa.

By: Yanne Katrina.

Mengapa aku TUHAN…???

~~

“Ah, hendaklah kiranya kekesalan hatiku ditimbang,

dan kemalanganku ditaruh bersama-sama di atas neraca!

Maka beratnya akan melebihi pasir di laut;

oleh sebab itu tergesa-gesalah perkataanku.”

~ Ayub 6:2-3 ~

“Kalo sudah jam istirahat kamu jangan main keluar sendiri ya. Kalo mau keluar kelas minta tolong sama ibu guru , nanti ibu guru yang temani kamu keluar kelas.” Sambil merapikan seragamku, mama terus mengulang pesan yang sama hampir setiap kali aku akan berangkat ke sekolah.

“ iya ma..” aku hanya bisa mengangguk tanda setuju.

“bekal siangmu sudah ada di tas, jadi kalo sudah jam istirahat, kamu ngga perlu keluar kelas untuk membeli makanan. Kalo memang ingin beli sesuatu, minta tolong sama temanmu saja.” Katanya lagi dengan gaya dan nada yang sama.

“nes…!” teriak mama memanggil kakaku, “kamu sudah siap belum?”

“ iya, sudah ma…” sahut kakaku sambil berjalan mengikuti kami dari belakang.

Dibanding denganku, kakaku agnes jauh dari yang namanya lemah, bahkan bisa dibilang tubuhnya sangat kuat dan sehat.

Seperti biasanya, saat berangkat ke sekolah aku akan digendong oleh mama atau papaku, tergantung siapa yang mengantar. Dan pagi itu giliran mama yang mengantarkanku kesekolah.

Dengan langkah kaki yang sedikit dipercepat untuk mengejar waktu, mama terus berjalan sambil menggendongku dengan erat diikuti oleh kakaku dari belakang. Tangan-tangan kecilku erat merangkul leher mama. terdengar jelas ditelingaku hembusan nafasnya yang ngos-ngosan karena kelelahan menggendongku. Tubuhnya yang terbilang kecil tapi kuat, terus menggendongku dengan erat.

Ketika tiba di persimpangan jalan, kakaku melanjutkan perjalanannya kesekolah seorang diri, karena saat itu aku dan kakaku sekolah di tempat yang berbeda.

Setibanya di sekolah, mama mengantarku masuk sampai kedalam kelas. “ selamat pagi yanne.” Sapa guru kelasku, bu lia.

“pagi bu guru.” Balasku, seraya memasukan tasku di laci meja.

“ eh pagi bu lia, aku titip yanne lagi ya, tolong perhatikan dia saat jam istirahat, aku takut dia jalan-jalan sendiri keluar kelas.” Mama kembali lagi mengulangi kebiasaannya meminta guru-guru untuk menjagaku agar tidak keluar kelas.

“ iya bu, pasti kami akan memperhatikan yanne dengan baik. Ibu tenang saja ya.” Jawaban bu lia sepertinya memberikan sedikit ketenangan pada wajah mama.

“ kalo begitu makasih ya bu guru, aku permisi pulang dulu.” Mama berpamitan dengan bu lia. Kemudian kembali mengarahkan pandangannya padaku, untuk mengatakan hal yang sama seperti biasanya. Jangan keluar kelas saat jam istirahat.

Saat lonceng sekolah berbunyi tanda bahwa jam istirahat sudah tiba, teman-teman sekelasku terlihat begitu bergembira. Tapi bagiku hal itu tidak mengubah apapun, jam istirahat atau tidak, aku tetap harus berada didalam kelas ditemani bekal makan siangku.

Siang itu aku benar-benar tidak bisa menikmati makan siangku. Pikiranku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang sudah sejak lama aku pikirkan. Kenapa aku berbeda dengan yang lain?, mengapa diluar sana anak-anak yang lain bisa berlari bebas ? sedangkan aku hanya bisa duduk disini sambil bertanya-tanya mengapa aku.? mengapa aku TUHAN yang harus menderita penyakit aneh yang tak ada obatnya ini.?

Teman-teman sekelasku, kaka perempuanku, bahkan anak-anak yang hanya tumbuh dipinggir jalanpun semuanya sehat. Lalu apa salahku sehingga aku harus berbeda dengan mereka?

Aku ingin sekali mengerti mengapa ini terjadi, tapi aku tak menemukan satu pun alasan mengapa ini harus terjadi.? Apa yang bisa dipahami seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun tentang OSTEOPOROSIS juvenil idiopatik.? Saat itu yang bisa aku pahami adalah, bahwa aku berbeda dari yang lain, dan hal itu jelas-jelas tak bisa aku terima dengan lapang dada.

***

To be Continued….