Penulis                         : Francis Chan
Penerbit                       : Benaiah Books
Tahun Penerbitan      : 2011
Cetakan ke                  : 1
Jumlah halaman        : 207 halaman
Alamat url                    : http://benaiahbooks.com

Saat pertama kali buku ini ada di hadapan saya, sebuah tagline di bagian bawah sebelah kiri sampul buku membuat saya sempat tidak bergerak beberapa saat: “Tak berdaya menghadapi Tuhan yang mengejarku tanpa mengenal lelah.” Saya langsung yakin buku ini akan berbicara banyak kepada saya, dan memang demikian adanya.

Dalam buku ini Francis Chan mengajak umat percaya untuk meresponi cinta Tuhan yang begitu radikal dengan tidak hidup sebagai orang Kristen yang “biasa-biasa” saja. Di bab awal Francis mengajak pembaca untuk merenungkan kebesaran Tuhan Sang Pencipta. Bayangkan, betapa kecilnya manusia dibandingkan dengan bumi yang menjadi tempat tinggalnya, tetapi bumi pun hanya sebutir debu dibandingkan dengan lebih dari 350.000.000.000 galaksi yang Tuhan ciptakan. Lihatlah ciptaan Tuhan yang lainnya, seekor ulat bulu jauh lebih kecil dari pada manusia, tetapi dalam kepala serangga tersebut, ada 228 otot yang terpisah satu sama lainnya, laba-laba dapat menghasilkan benang sutra sepanjang 18 meter dalam tempo satu jam. Lalu Francis Chan menuliskan penglihatan yang dialami oleh Yohanes dan Yesaya akan Tuhan yang duduk di atas tahta dan tiada henti-hentinya dipuji oleh para makhluk surga. Bayangkanlah Tuhan yang Maha Besar itu, Dialah Pribadi yang menciptakan manusia.

Setelah menggambarkan kebesaran Tuhan yang Mahaagung dan Mahamulia, Francis Chan membawa pembaca untuk merenungkan keberadaan manusia. Sebuah kalimat yang dijadikan judul pada bab 2 buku ini cukup menghentak: “Anda mungkin tidak sempat menyelesaikan bab ini.” Ya, tidak ada yang tahu berapa lama kita hidup di dunia, dan sesungguhnya kita tahu hal itu. Sebuah kutipan dari Frederick Buechner menggambarkannya dengan baik:  “Secara intelektual kita semua tahu kita akan meninggal dunia…sebaliknya kita cenderung hidup seolah-olah hidup kita akan berlangsung selamanya.” Itulah kenyataannya, hidup kita di dunia singkat, terbatas, dan kita harus terus mengingatnya dari waktu ke waktu. Saya jadi tersenyum saat menulis bagian ini dengan mengingat judul bab 2 tadi, mungkin saja saya tidak sempat menyelesaikan resensi buku ini.

Jadi, faktanya begini: Tuhan yang kudus, kekal, mahatahu, mahakuasa, mahaagung, mahabesar, mengasihi anda dan saya, manusia yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan ciptaan-Nya yang lain. Jelas sekali Tuhan tidak memerlukan manusia, tetapi Ia memilih kita, bahkan menjadikan kita sebagai ahli waris-Nya. Tuhan menganggap manusia yang hidupnya terbatas ini berharga. Tidak heran Francis Chan memberikan judul Crazy Love (Cinta Gila) terhadap buku ini. Dengan mengetahui fakta tersebut dan menyadari betapa kecilnya manusia di hadapan Allah, masihkah kita menjadi orang Kristen yang “biasa-biasa” saja, yang suam-suam kuku? Saya setuju sekali dengan  Francis Chan yang dengan tegas menuliskan: “Memberikan sisa-sisa kepada Tuhan itu adalah suatu kejahatan.”

Keyakinan saya benar, buku ini berbicara banyak kepada saya. Saya pikir, saya sudah menjadi orang Kristen yang cukup baik selama ini. Tetapi setelah merenungkan keagungan Tuhan, yang saya lakukan belumlah apa-apa. Buku ini mengingatkan saya bahwa tidak ada perbuatan yang terlalu besar yang dapat saya lakukan untuk Tuhan. Benar adanya kutipan Daniel Webster di bagian akhir buku ini: “…suatu hari nanti, saya harus berdiri di hadapan Allah yang kudus dan mempertanggungjawabkan hidupku.”

Jika anda merindukan kehidupan yang tidak biasa-biasa saja, ingin kembali merasakan indahnya jatuh cinta kepada Tuhan, baca buku ini, dan nikmatilah gilanya cinta Tuhan.

____________

buku dapat dibeli melalui  www.lilinkecil.com merupakan bagian dari  Program Join & Get Free Book #CrazyLove | Francis Chan yang disponsori oleh  Benaiah Books