Cerita Sebelumnya:

Bertempat di sebuah Gereja beraliran kharismatik, dimana terdapat istilah WL (Worship Leader), WL adalah orang yang bertugas menjadi leader puji-pujian dan penyembahan dalam sebuah kebaktian. Untuk Gereja karismatik, WL merupakan posisi yang cukup berpengaruh dalam ibadah dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi WL.

Saat seorang perempuan muda datang ke Gereja tersebut, beberapa hal unik terjadi dalam kehidupan pelayan-pelayan didalam Gereja. Kehidupan kelam perempuan itu menghantarkan dia ke dalam sebuah penolakkan terselubung dari teman-teman sepelayanannya.

Dan teman-temannya itu mulai membicarakan hal-hal yang pernah ia lakukan, hingga ia merasa sangat terpojok dan malu. Bahkan tidak seorangpun yang berbicara untuk membelannya.


Chapter 6

Kedatangan Daniel sedikit banyak membuat Gege sedih dan lega sekaligus. Sedih, karena Gege harus “mengusir” Daniel dari hidupnya, dan lega karena Gege tidak perlu menyimpan rahasia semacam itu lagi dari Daniel. Paling tidak, Gege membuka kekurangannya sebelum semua terlambat, sebelum Gege mulai mengasihi Daniel secara spesial.

Keesokan harinya, Gege pergi ke sebuah pantai yang agak jauh dari kota. Seperti biasanya, ia sendirian. Ia tidak ingin ditemani siapapun dan diikuti siapapun. Karena itu ia berangkat sebelum fajar menyingsing. Dengan setelan lengkap, baju tangan panjang, kaos kaki, syal, dan celana training panjang, ia menyetir sendirian menuju tempat yang dimaksud.

Ia melihat sebuah pohon besar yang tumbang tergeletak di bibir pantai. Ia segera kesana dan membawa kantong pelastik besar yang entah apa isinya.

Saat ia duduk di pohon itu, ia mengeluarkan sebuah botol kecil dengan cairan bening didalam kantong itu dan sebuah kotak kertas hitam kecil. Lalu ia mengeluarkan isi dari kantong pelastik besar itu semuanya. Isi kantong itu ternyata adalah beberapa buah kotak rokok besar kira-kira ada 6 buah berisi masing-masing 16 batang yang belum dibuka.

Bersamaan dengan bungkus rokok itu terdapat sebuah benda kecil berkilau tajam. Ya, itu adalah sebuah cutter. Cutter yang sering dipakai Gege untuk melukai dirinya sendiri.

Lalu ia mengeluarkan sebuah headset yang sudah dihubungkan dengan handphone yang ada di kantungnya. Ia mendengarkan musik, musik rohani yang ia gemari dan mulai mengocok kotak kecil hitam dan menggenggam erat botol dengan cairan bening itu.

Saat menutup mata rapat-rapat, berbagai memori terlintas dipikirannya. Saat ia mulai merokok, saat kakaknya sendiri menyerahkannya pada pria hidung belang, saat ia melihat ibunya meninggal, dan saat ia dinyatakan kanker paru-paru. Botol yang ia pegang mengkerut karena kencangnya genggaman Gege. Tersadar akan hal itu, Gege membuka mata dan membuka tutup botol dan menumpahkan cairan itu ke atas tumpukkan rokok itu.

Setelah dirasanya cukup, ia melempar botol itu ke tumpukkan rokok yang telah basah. Ia mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkan sebatang korek dari dalam kotak hitam yang dipegangnya tadi. Ia menggesek ujung batang korek itu hingga apinya menyala dan melemparnya ke tumpukkan rokok tadi hingga menimbulkan kepulan api yang besar.

Api itu kian membesar dan membesar. Matanya berbinar-binar memandang indahnya api itu. Dengan tenang ia memandang api itu dengan senyuman. Tidak ada lagi rokok, tidak ada lagi cutter. Ia tidak ingin lagi merusak tubuhnya, tidak ingin lagi!

Salah satu organ tubuhnya kini telah rusak. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia akan bertahan dengan salah satu organ yang paling dibutuhkan oleh tubuhnya sendiri. Ia tidak tahu berapa lama lagi ia akan bernapas dengan paru-paru semacam ini. Yang ia tahu adalah, ia masih memiliki waktu untuk digunakan, sebaik-baiknya, apa saja yang dapat ia kerjakan akan ia lakukan, untukNya yang telah memberikannya kesempatan
hidup dan kesempatan mengenalNya lebih dalam lagi.

Dan tubuhnya, ia tahu, tubuhnya bukan miliknya. Tak banyak yang dapat ia lakukan untuk memperbaiki keadaan tubuhnya. Ia hanya memiliki sedikit waktu, hanya sedikit, untuk berserah, berserah hanya pada DIA yang empunya kehidupan.

Dan ketika ia pulang saat matahari mulai meninggi, headset itu tidak terlepas dari telinganya. Ia menyetir dengan tenang dan santai. Dadanya terasa lebih ringan dari biasanya.

Hari rabu, dua minggu kemudian, seperti biasa Gege datang untuk latihan ibadah Youth hari sabtu. Tubuhnya terasa lebih baik, dan ia merasa lebih segar dan siap dari biasanya.

Hari ini semangatnya terasa berkobar, bahkan walaupun itu hanya sebuah latihan kecil yang belum tentu seluruh pelayan yang bertugas dapat berhadir dan berlatih bersama.

Ia memarkir mobilnya didepan Gereja dan segera turun. Wajahnya terlihat lebih merah walaupun keringat masih membuat rambut dan kepalanya terlihat lembab. Tubuh kurusnya terlihat lebih segar dan enerjik, senyum diwajahnya juga tidak pudar. Ia berlari kecil ke sebuah cermin besar yang digantung di sebuah pilar besar dekat garasi mobil pastori di lantai dasar. Dengan semangat, ia mengeluarkan sisir dari ransel dan segera menyisir rambutnya.

Lengan kemejanya ia betulkan sampai ke pergelangan tangan. Tali sepatunya ia perbaiki, dan rambutnya ia kuncir ekor kuda. Setelah memperbaiki letak poni dan posisi kemejanya, ia langsung ke atas dengan semangat.

Di tengah jalan sebelum memasuki ruang ibadah khusus pemuda, saat ia berada beberapa inci menuju pintu yang sedikit terbuka, tali sepatu yang sebelah kirinya terlepas, ia sadar lalu berjongkok memperbaiki tali sepatunya.

Dan tiba-tiba ia mendengar sebuah pembicaraan.

“Ketua pelayanan mibar?” Kata seorang laki-laki. Gege mengenali itu sebagai suara Moses. Gege
mengerutkan kening. Ia berdiri namun tidak masuk. Ia hanya berdiri.

“Kak James yang bilang,” kata seorang wanita yang biasa menjadi singer bernama Talita. “Rencananya begitu sih.”

Samar-samar, ia melihat sosok Daniel dari daun pintu itu.

“Emangnya Gege tu cocok apa?” Sambung Talita lagi. “Aku nggak bisa begitu aja setuju. Bukankah banyak jemaat lama yang lain yang bisa dijadikan sosok pemimpin?”

“Sama,” kata Moses menyetujui.

“Ya memang lebih baik jemaat lama,” kata sebuah suara perempuan lain yang tidak bisa Gege lihat dimana posisi ia berada. Mungkin ia berdiri di ujung, atau dibalik drum. Yang pasti didalam ruangan tersebut ada kira-kira empat orang.

“Dan, denger-denger kamu deket sama Gege,” kata Talita. “Emang orangnya gimana?”

Daniel yang tadi sempat melamun terlihat kaget dan segera menepis tudingan itu, “Eh? Si Gege tuh yang deketin aku. Aku kan nggak ada perasaan apa-apa sama dia.”

Talita penasaran dan tetap menggali informasi, “Tapi kalian memang pernah dekat kan?”

Daniel tak bisa mengelak, “Iya memang dekat. Dia orangnya ketus. Untuk mendekati dia, bukan hal yang mudah.”

“Ketus gimana maksudnya?” Tanya Talita. Talita mendengus dan mengangkat alisnya sebelah, “bukannya kamu yang sering ke kost Gege hayooo???”

Daniel terdiam.

“Kamu hati-hati lho kalau deket dia.”

“Emang kenapa,” tanya Daniel.

“Denger-denger tuh anak junkie,” kata Talita mengecilkan suaranya sedikit. Moses terlihat mengangkat alisnya sebelah tanda tak percaya. Daniel menatap Talita tanpa berkata-kata. Entah Talita tahu dari mana soal Gege.

“Kamu tahu dari mana Ta?” Tanya Daniel.

“Aku kan sekampus sama dia. Dia itu angkatan lama. Kadang aku sama dia satu kelas di beberapa mata
kuliah tertentu. Memang sih kalau pergaulan zaman sekarang itu hal yang lumrah. Tapi come on! Kita ini
di Gereja. Pantes nggak seorang junkie jadi WL apalagi ketua mimbar. Aku sih ogah bilang iya.”

“Iya, dia kan sering pingsan juga di Gereja. Entah sakit apa juga tuh anak,” akhirnya Gege mengenali suara itu, tetapi ia lupa siapa namanya.

Moses menatap Talita dengan penasaran, “Apa kamu yakin kalau dia masih jungkie?”

Talita mengangkat bahu, “Nggak tahu, tapi kayaknya sih masih.”

“Dari mana kamu yakin kalau dia masih?” Tanya Moses lagi.

“Lihat aja gayanya dia. Apa nggak kelihatan?” Kata Talita meyakinkan.

“Matanya sayu, hitam banget bagian bawah matanya, badan kurus, bibirnya juga agak hitam. Kayaknya sih perokok berat dia tuh. Dia bukan orang yang bagus buat dipacarin.” Kata perempuan itu lagi.
Daniel sedari tadi hanya terdiam. Ia tidak ingin menambah-nambah lagi. Ternyata Talita memang tahu, namun Daniel tidak yakin apakah Gege masih menggunakan barang tersebut atau tidak. Mungkin saja Gege sudah berhenti memakai. Tentulah penggunaan barang tersebut tak semerta-merta dapat berhenti dengan mudah. Pastilah ada tahapan yang membuat tersiksa seperti rehabilitasi narkoba yang sering terlihat di film-film.

“Pokoknya koordinator pelayanan mimbar jangan Gege. Lagi pula kita nggak begitu kenal dia, track recordnya belum begitu jelas juga.” Kata suara perempuan itu.

“Kamu aja deh yang jadi ketua pelayanan mimbar Deb,” kata Talita.

“Aku nggak tahu siapa yang akan terpilih. Yang jelas kalau terpilih, aku tidak akan nolah. Tetapi kalau nggak terpilih, bukan masalah bagiku. Yang penting pelayanan bisa berjalan dengan baik.”

Ternyata, suara perempuan itu Debi yang ia pikir selalu baik padanya. Diluar, Gege berdiri terpaku. Belum ada tetesan air mata yang keluar, namun ia dirundung senyap. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding. Dan menutup matanya. Ia berusaha mengatur alur napasnya dengan peluh yang bercucuran. Dalam hatinya ia berkata: Daniel, kamu yang deketin aku… Bukan aku yang kejar-kejar kamu!

Inikah konsekuensi yang harus ia tanggung saat menjadi pelayan? Ya, ia harus siap untuk hal ini. Bahkan ketika satu-satunya orang yang ia harapkan dapat membelanya di mata orang-orang yang memandang jijik
padanya, malah tidak mengakui keberadaannya.

Dari bawah terdengar langkah kaki beberapa orang. Gege segera mengembalikan akal sehatnya. Ia turun kebawah dengan pelan dan menyambut beberapa singer yang lain. Berpura-pura bersama naik ke atas. Dan ia berhasil memainkan lakon seolah-olah ia tidak mendengar apapun dan tidak terjadi apapun hingga akhir latihan.

* * *

“God, should I hate myself?”

Kata-kata itu terus keluar dari mulut Gege setelah pulang dari latihan. Di dalam mobil, ia tak henti-hentinya mengatakan hal itu.

Tak jauh dari Gereja, Gege melihat sosok perempuan berjalan sendirian entah menuju ke mana. Ia lalu mengenali sosok itu sebagai istri dari pendeta muda James. Gege langsung berhenti dan membuka jendela.

“Kak, mau ke mana?”

Istri dari pendeta muda James itu lalu menyadari ada yang berhenti di sampingnya dan juga mengenali Gege yang duduk dalam mobil. “Mau cari tumpangan. Mau ke minimarket, ada yang hendak dibeli, Ge. James kan lagi pergi ke luar kota.”

“Naik mobilku aja, aku antar.”

Ia tidak menolak.

Setelah selesai belanja, mereka lalu pulang kembali ke pastori. Gege tidak bicara banyak, istri pendeta muda James pun orang yang pendiam. Namun satu pertanyaan terbersit dipikirannya.

“Kak, boleh tanya?”

“Ya boleh…”

Gege lalu mencari tempat sepi dimana ia gampang memarkir mobilnya. Sejenak suasana menjadi hening, wanita itu memandang Gege pertanda menunggu Gege yang tertunduk itu bicara.

“Kakak pernah melakukan suatu hal di masa lalu? Kesalahan yang besar? Really really big mistakes?”

“Pernah. Sangat banyak.”

Dengan kepala masih menunduk memandang setir, Gege bertanya lagi. “Apa kakak pernah berharap bisa kembali ke masa lalu dan mencegah melakukan kesalahan yang besar itu?”

Wanita itu memandang ke atas dan berpikir. “Tidak.”

Mata Gege membesar, lalu ia memandang wanita itu dengan pandangan tidak mengerti. “Kalau kakak dikasih kesempatan untuk mengulang waktu, kesalahan apa yang tidak ingin kakak lakukan?”

Lalu siluet senyuman terpancar dari wajahnya ditengah kegelapan malam. Dengan lembut wanita itu menjawab. “Tidak ada.”

“Kenapa?”

“Karena….. Kalau aku tidak melakukan kesalahan, aku tidak akan pernah belajar untuk melakukan segala
sesuatu dengan benar.”

Jawaban singkat, namun sungguh luar biasa logis hingga membuat Gege mengangguk. Ia sendiri jadi bingung ingin bertanya apa lagi, karena jawaban itu sudah menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan yang merundung benaknya.

Haruskah ia membenci dirinya sendiri? Haruskah ia tidak muncul dihadapan khalayak? haruskah ia pergi dan pergi ke tempat dimana tidak ada seorangpun yang mengenalnya dan memulai hidup baru? Seluruh pertanyaan itu sudah terjawab.

Ia tahu kini, ia tidak perlu menghindar, ia tidak perlu membenci dirinya sendiri, dan tidak perlu pergi dan mengasingkan diri. Ia hanya perlu belajar untuk melakukan hal yang benar.

Wanita itu tersenyum pada Gege dan memegang tangan Gege, “Aku tahu kamu punya sesuatu yang dipendam. Sesuatu yang kamu lakukan di masa lalu yang membuatmu sering merasa tidak layak. Aku pun tidak akan bertanya apa yang kamu pernah lakukan dulu. Namun kini kau mengerti tentang kebenaran bukan? Berubahlah oleh pembaharuan budimu. Itu sudah cukup.”

Seperti angin semilir berhembus didada. Petikan ayat Alkitab yang benar-benar menjadi jawaban.

———————to be continued———————-