Bertempat di sebuah Gereja beraliran kharismatik, dimana terdapat istilah WL (Worship Leader), WL adalah orang yang bertugas menjadi leader puji-pujian dan penyembahan dalam sebuah kebaktian. Untuk Gereja karismatik, WL merupakan posisi yang cukup berpengaruh dalam ibadah dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi WL.
Saat seorang perempuan muda datang ke Gereja tersebut, beberapa hal unik terjadi dalam kehidupan pelayan-pelayan didalam Gereja. Kehidupan kelam perempuan itu menghantarkan dia ke dalam sebuah penolakkan terselubung dari teman-teman sepelayanannya.
Beberapa hal unik yang diluar kendalinya terjadi. Hingga suatu penyakit hinggap pada dirinya dan mulai menggerogoti tubuhnya.

Chapter 5

Keringat Gege merembes, baju hitamnya terlihat basah. Bukan karena malam ini panas, tetapi lebih dari itu.

Yang ia inginkan adalah cepat sampai di kosnya untuk membaringkan tubuhnya yang lelah, melepaskan segala tetek bengek kehidupan dunianya di atas sebuah bantal dan sebuah guling. Walaupun ia tahu, kedua hal krusial dalam kamar tersebut tidak dapat sepenuhnya menghilangkan kegalauannya malam ini. Tapi setidaknya kedua barang itu bisa membuatnya menutup mata sejenak. Lalu sebuah panggilan dari nomor tak dikenal muncul di ponselnya.

Gege memperhatikan nomor itu sejenak dan mengangkatnya, “Halo?”

“Hai, selamat malam.”

Gege mengerutkan keningnya. Ia tidak mengenali suara orang itu, “Siapa ini?”

Orang itu berdeham sebentar dan melanjutkan, “Ini gue, Daniel. Apa aku ganggu?”

“Oh, Daniel… Nggak, kamu nggak ganggu aku.”

“Kalo boleh tahu, lagi ngapain?”

“Cuma tiduran, aku agak lelah.”

“Sudah makan?”

Pertanyaan Daniel itu agak aneh ditelinga Gege sehingga ia mengernyitkan keningnya. Tidak biasa baginya.

“Belum.”

“Cepat makan gih.”

“Hmm, ya…”

“Oke, selamat malam.”

Gege menutup teleponnya dengan sedikit kesal. Untuk apa menelepon malam-malan hanya untuk mengingatkan makan? Nggak efisien. Buang-buang waktu dan pulsa. Namun sisi positifnya, ia lalu ingat kalau ia harus makan. Namun pikirnya menolak, hingga ia tidak jadi makan.

Ia berjalan ke depan cermin. Ia memperhatikan tubuhnya yang makin kurus. Di pipi dan bahunya terlihat tulang-tulang yang menonjol. Lalu ia kembali ke tempat tidur dan berbaring. Ia memeluk gulingnya erat-erat lalu menangis. Kanker paru-paru…Penyakit ini ternyata bersemayam dalam tubuhnya. Lalu pikirannya melayang pada sosok lelaki bernama Daniel.

Daniel terus menghubungi Gege. Gege sendiri bingung, kenapa dengan laki-laki itu karena tidak biasanya.

Mungkin bisa disebut sedikit perhatian dan terlalu banyak tanya. Setiap jam selalu mengirim pesan singkat, walaupun hanya sesekali dibalas oleh Gege.

Hingga pada suatu saat, hari rabu malam selepas latihan saat Gege berjalan menuju tangga turun ke lantai pertama alias pastori, Daniel dengan cepat menahan Gege dengan menyentuh bahunya.

“Ge…”

Gege berbalik, “ya Daniel.”

“Mo ke mana?” katanya lagi sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana.

“Pulang lah, emangnya mau kemana lagi…” Jawab Gege ketus.

“Aku ikut ya.”

Alis kanan Gege terangkat, “ngapain?”

“Aku bosen aja dirumah.”

Gege menunduk sebentar untuk berpikir.

“Gimana Ge? Boleh?”

Gege memandang Daniel, “ya udah boleh…”
* * *

Daniel menderu mobilnya pulang dari kos Gege. Hampir sebulan berlalu, mereka makin dekat. Sering jalan-jalan, makan, ke Gereja bersama, walaupun tidak selalu begitu. Ia lalu melihat SMS yang tiba-tiba masuk ke
ponselnya.

Hati2 d jalan ya… Gbu

Ia tersenyum melihat pesan singkat itu. Banyak orang yang tidak mengenal Gege secara langsung. Ia tahu kalau banyak yang kurang suka pada Gege. Namun Daniel merasa ada yang lain dalam diri Gege yang orang lain tidak ketahui. Ia merasa Gege begitu berbeda.

Wajahnya, caranya tersenyum, sifat tertutupnya, membuat Daniel semakin penasaran. Apakah yang membuat gadis ini sangat tertutup. Hingga muncullah satu pertanyaan yang menggelegar dalam benaknya: bisakah ia menjadi bagian dari hidup gadis itu? Untuk menjadi teman dikala susah dan senang? Hanya itu saja untuk lebih dekat dengannya. Hanya itu.

Gege pergi ke apotek untuk membeli obat yang telah habis. Lalu sosok yang sangat familiar baginya muncul. Seorang laki-laki dengan wajah yang mirip dengannya.

Perasaannya berkecamuk saat melihat laki-laki itu. Nafasnya menjadi tidak beraturan, tangannya mengepal, matanya membesar, dan dadanya terlihat naik turun. Ia lalu menunduk, bersembunyi diantara etalase yang berisikan obat-obatan lainnya dan menunggu hingga laki-laki itu pergi.

Gege berdiri dengan wajah pucat. Ia lalu ke kasir, membayar obat yang ia beli lalu cepat-cepat pergi dari apotik itu.

Dengan buru-buru, ia menyetir mobilnya keluar halaman apotek. Tubuhnya menjadi gemetar, ia gugup sekali.

Ia takut bertemu laki-laki itu. Egy…

Ya, Egy muncul tiba-tiba. Gege lalu berpikir apa ia harus pergi ke luar kota untuk menghindari Egy? Namun bagaimana pekerjaannya? Kuliah dan pelayanannya? Tidak, hal itu bukan hal terbaik.

Ia tertekan. Sejak penyakitnya ketahuan, Gege menyadari kalau dirinya semakin rapuh. Jiwa raganya sangat rapuh untuk dihancurkan. Sangat rapuh untuk dipatahkan. Dan sangat rapuh untuk diluluhkan. Ia lalu teringat Daniel, mungkin saja ia bisa bercerita padanya.

Tetapi sebuah pikiran menghantuinya. Belum saatnya ia menceritakan kepada Daniel tentang dirinya. Belum, waktunya tidak tepat. Namun haruskah ia terus memendam ini sendirian? Adakah orang yang bisa dipercaya?

Seandainya ia memiliki saudara… Ia menyuarakan sebuah kalimat dalam pikirannya: Tidak ada yang bisa kupercaya, bahkan saudaraku sekalipun…

Berkali-kali Daniel mencoba menghubungi ponsel Gege, namun tidak aktif. Ada apa dengan gadis itu? Memang Gege orang yang sulit didekati, namun menghubunginya bukanlah sesuatu yang sulit. Ia lalu berpikir, apakah terjadi sesuatu yang buruk pada Gege. Atau mungkin ia sedang mengalami kesulitan. Daniel lalu pergi ke kost Gege secepat mungkin.

Saat ia sampai, kost itu terlihat sepi, namun mobil Gege terlihat sudah ada di halaman. Daniel langsung pergi ke kamar Gege dengan perasaan cemas.

Kamar yang terletak paling ujung di lantai 2 tersebut terlihat sepi. Lampu disekitarnya tidak menyala, dan pintu kamarnya tertutup. Seorang gadis lain lewat dan menyapa Daniel.

“Hei, kamu nyari Gege ya?”

“Iya, dia ada nggak?” Tanya Daniel.

“Dari tadi dia ngurung diri di kamar, ketok aja, dia ada kok.” Jawab gadis itu ramah.

“Oke, makasih ya.”

“Sama-sama,” kata Gadis itu sambil berlalu turun ke lantai dasar.

Pelan-pelan, Daniel menuju depan pintu kamar Gege dan mengetuknya.

“Ge…”

Tidak ada yang menjawab. Kamar itu hening sekali. Kemudian Daniel mengetuknya lagi, “Gege…”

Masih tidak ada jawaban. Hening.

Daniel memberanikan diri untuk membuka pintu itu perlahan-lahan, “Gege?”

Lampu kamar tidak menyala, hanya sebuah lampu yang terletak di meja belajar yang menyala, tentu saja lampu tersebut tak cukup untuk menerangi seluruh isi ruangan.

Kamar itu luas, disebelah kanan terdapat lemari pakaian yang besar, disebelah kiri, terdapat kasur empuk yang menghadap ke lemari serta meja belajar yang dekat dengan pintu. Lalu terlihat sosok bayangan di sudut ranjang, dekat dengan meja belajar itu. Terdengar suara seseorang. Napasnya terdengar menderu, dan tidak karuan.

Daniel lalu mencari saklar dan menghidupkan lampunya. Ia mencium bau rokok yang menusuk. Kamar itu terlihat berantakkan. Saat ia menoleh ke kiri, barulah ia mendapatkan orang yang ia cari-cari.

“Gege, aku itu nyariin…” kalimatnya terpotong saat melihat kondisi Gege yang berantakkan. Rambutnya tidak rapi, ia terlihat sangat lusuh. Dan yang lebih berantakkan lagi, ditangannya terdapat sebatang rokok dengan bara yang masih menyala. Disekitar Gege duduk, terdapat asbak dengan beberapa puntung rokok.

“Hai,” kata Gege dengan mata sayu. Frustasi bukan kata yang cukup untuk menggambarkan raut wajah Gege sekarang. Dan Daniel terkejut. Bisa dikatakan “sangat” terkejut ketika melihat kondisi Gege.
Gege menepuk-nepuk lantai disampingnya, pertanda ia ingin Daniel duduk disampingnya.

“Aku nggak merokok, Ge,” kata Daniel.

“Lucu kamu, siapa yang nawarin rokok?” Jawab Gege sambil tertawa miris.

Daniel lalu duduk disamping Gege dan memperhatikan wajahnya. Menyedihkan sekali keadaan Grace sekarang, seperti mayat hidup, tubuhnya terlihat lebih kurus, dan bahkan terlihat ringkih. Lalu Daniel dengan gusar, menaruh puntung rokok yang Gege pegang ke asbaknya dan mematikan bara rokok itu. “Look at you! Kamu kenapa sih Ge, kok kamu jadi gini? Kok sampai merokok segala?”

Dengan pandangan kosong ke depan, Gege balik bertanya, “Aku mau tau sebenarnya tujuan kamu deketin aku itu apa…”

Pertanyaan itu benar-benar seperti peluru yang diletuskan dari sebuah pistol dan menusuk tepat di sasaran.
Daniel menghela napasnya dan duduk bersila. Di benaknya, Daniel masih bertanya-tanya apakah ada penjelasan tentang ini semua. “Sebelum aku jawab, tolong jelaskan, sebenarnya kamu kenapa?”

“Jawab dulu pertanyaanku, baru akan ku ceritakan semuanya. Semua yang ingin kamu tau.”

Daniel tahu bahwa ia tidak punya pilihan lain selain jujur. “A… Aku semula berpikir, kalau kamu itu gadis dengan pribadi menarik. Aku hanya mau tau tentang kamu lebih dalam. Dan, siapa tau, kita bisa ‘cocok’.”

“Ku rasa kamu mau cewek baik kan?”

Daniel mengangguk.

“Apa kamu berpikir aku cewek yang baik?”

“Sejauh yang ku lihat, kamu bukan tipe cewe yang gampang dideketin cowo. Kamu tertutup, kamu ketus,
menandakan kamu bukan cewe gampangan. Sejauh ini yang bisa ku lihat hanya itu.”

“Dan kamu berpikir kita bisa pacaran, iya khan?”

Walaupun kata-kata Gege begitu frontal, namun hal itu memang benar. Namun Daniel merasa sedikit kecewa saat melihat Gege merokok. Daniel pun berkata,“Aku berharap kamu bisa lebih terbuka.”

Gege mengusap rambutnya, dan Daniel dapat melihat wajahnya yang begitu pucat. “Selama ini, aku nggak punya teman berbagi. Aku nggak punya teman yang bisa aku percaya.”

“Ge, kamu tahu lah… sekarang kita kan dekat. Kamu pasti bisa sharing sama aku,” kata Daniel dengan wajah yang penuh harap. Berharap bahwa ialah yang akan menjadi orang yang mampu meredam kegelisahan hati wanita yang ada di depannya.

Sebelum berkata-kata, air mata Gege turun satu per satu, membuat Daniel tidak tahan dan ia berusaha menghapus air mata Gege. Namun sebelum Daniel menghapus, tangannya telah ditepis oleh Gege sendiri.

“Kamu tahu nggak? Aku ini buruk banget. Aku nggak mau kalau sampai kita nanti pacaran, dan kamu baru tahu buruknya aku bagaimana, kamu akan tersakiti. Karena jujur sejak terakhir kali pacaran beberapa tahun yang lalu, baru kali ini aku bisa benar-benar tertarik pada laki-laki.”

Daniel mengerutkan kening, “Memangnya kamu seburuk apa Ge? Kamu itu luar biasa. Kamu cantik, kamu pendiam, suaramu bagus, bahkan jujur, sewaktu kamu jadi WL, aku kagum sama kamu. Bisa membawa jemaat lebih dalam. Bahkan aku nggak lihat ada kesombongan dalam diri kamu. Pembawaan kamu dan Moses sangat berbeda. Hawanya begitu terasa, Grace… Aku suka… Suka… Aku rindu melayani dengan orang yang bisa ku ajak berbagi, berbagi dalam hal apapun, termasuk cinta.”

Gege tersenyum sinis. Daniel jatuh cinta padanya, ia tahu hal itu. “Kamu jatuh cinta sama orang yang salah!”

Daniel hanya melongo, ia bingung apa yang harus ia katakan. “Ya! Aku memang jatuh cinta sama kamu, aku menyukai kamu! Tolonglah Grace, jangan begini… aku miris banget liat kamu begini tanpa tahu apa yang bisa kulakukan untuk kamu…” Sejenak Daniel terdiam, ia memang tidak terlalu mendengarkan kata-kata terakhir yang Gege ucapkan, tetapi ia ingat. “Tunggu dulu.. alasannya apa? Kenapa kamu jadi bisa mengatakan aku jatuh cinta pada orang yang salah?”

“Hidupku, sebelum masuk Gereja, sangatlah buruk, Dan. Aku perokok berat, banyak hal dihidupku yang ku habiskan hanya dengan hura-hura. Hampir setiap malam, aku pergi ke club, mabuk itu sudah jadi kebiasaan aku. Dan satu hal yang terparah.”

“Apa?”

“Kamu ingat, seseorang yang pernah duduk disamping aku waktu kebaktian minggu sore beberapa minnggu yang lalu? Waktu itu aku pingsan dan dia waktu aku sadar, lagi bicara sama Moses?”

“Egy ya? Abang kamu kan?”

“Bener…”

“Terus apa hubungannya?”

Gege mengambil sebatang rokok dari kotak rokok yang ia letakkan di atas ranjangnya dan menghidupkan baranya. Namun Daniel merebut rokok itu, dengan perlahan ia melepaskan rokok itu dari tangan Gege dan meletakkanya di asbak.

Lalu Gege menunduk, matanya terasa sangat berat, dan ia sangat lelah, bahkan untuk berpikir sedikit saja.

Tetapi ia tetap menguatkan diri untuk menguak sisi tergelap hidupnya. “Dulu… kakak aku, Egy, pernah jual aku ke bandar narkoba. Aku dijadikan, wanita simpanan, selama lebih dari enam bulan. Ya, apa bedanya dengan perempuan sundal? Sama saja kan? Pelacur… bahkan aku sering kali disiksa oleh dia, karena aku sering melawan. Beberapa kali aku coba kabur, tapi selalu ketahuan. Tidak ada satupun alat komunikasi yang ada padaku, aku tidak bisa menghubungi ibuku, teman-temanku, bahkan polisi. Rumah orang itu begitu jauh dari keramaian, kemana aku harus berteriak? Bahkan untuk makan pun, harus di kamar, setiap hari di kunci, aku tidak boleh keluar!”

Mata Daniel terbelalak lebar. Perasaannya berkecamuk, ia tidak tahu apa yang bisa katakan selain bibirnya yang membentuk huruf ‘o’.

“Kaget kan? Aku pun tidak ingin seperti ini!” Kata Gege.“Jujur, terkadang itulah yang membuatku merasa nggak layak. Aku ingin lari, tapi kak James terus membujukku untuk tetap pelayanan. Ya memang, syarat menjadi pelayan di Gereja kita hendaknya ia hidup kudus, dan lahir baru. Aku memang lahir baru, aku sempat terbebas dari merokok dan kehidupan-kehidupanku yang dulu kira-kira selama hampir setahun sebelum aku masuk pelayanan ini. Tapi apakah aku mampu mempertahankan untuk hidup kudus? Lihat aku sekarang!”

“Tapi kan kamu… pelayan…” kata Daniel terbata-bata.

“Coba pikir Dan, pikir!” Kata Gege dengan penuh emosi. “Layakkah aku melayani? Aku bahkan nggak pantas untuk melayani siapapun!!!”

Tubuh Gege gemetar, ia mengusap-usap hidungnya yang merah. Tubuhnya bergetar karena tak mampu menahan rasa bersalah yang tinggi, bukan kepada Daniel, tetapi kepada Yang Maha Mengetahui. Ia merasa semakin tertuduh, terjatuh, dan terpuruk. Apalagi dengan pandangan Daniel yang telah berbeda, tidak seperti dahulu sebelum ia tau semuanya. “Dengan kata lain, aku ini barang second…”

Daniel menggelengkan kepalanya, “kamu itu bukan barang second. Kamu itu,,,”

“Berharga? Hahaha,” jawab Gege lagi dengan sinis. “Aku udah biasa dengar hal itu dari Debi. O iya, masih ada satu lagi.”

“Apa?”

Gege termenung sesaat, ia sedang mengatur kata-kata manakah yang harus digunakan. Lalu dalam hatinya ia berkata: Good bye Daniel, now you will hate me forever…
* * *

Daniel pergi dari kost Gege dengan senyum yang dipaksakan. Masih teringat dipikirannya saat Gege menyebutkan, “Kamu jatuh cinta sama orang yang salah!”

Hal-hal yang dikatakan Gege membuatnya berpikir keras. Apakah perasaan cinta dalam hatinya ini benar cinta? Atau semacam kekaguman fisik semata? Dan terus terang saja, belakangan ini ia sering tidak konsen pelayanan, karena adanya Gege. Yang ia lihat terus dan terus Gege, motivasinya jadi berubah, dari ingin melayani, menjadi ingin melihat Gege.

Ia merasa sangat bingung, apa yang harus ia lakukan untuk Gege. Ia merasa ilfeel setelah mengetahui yang sebenarnya. Ia ingin sekali menjalin hubungan yang baik dengan Gege, namun ketika mengingat segala yang diucapkan Gege malam itu, ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Aku sendiri bingung, apa yang harus ku lakukan.

Apa lagi saat Daniel mengingat sebuah scene, gambaran itu masih jelas didalam otaknya dan menurut Daniel, itu adalah pengakuan yang sangat menjijikkan.

“Aku junkie,” bisik Gege sambil memperlihatkan kedua tangannya yang penuh luka sayatan. “Darah seorang junkie sudah terkontaminasi obat. Seorang junkie juga akan melakukan hal ini. Saat seorang junkie tidak mendapat narkoba, mereka akan mendapatkannya dengan beberapa macam cara. Salah satunya dengan menyayat tangannya sendiri, dan minum darahnya . Hal ini sangat menjijikkan. SANGAT MENJIJIKKAN…
“Sekarang aku sakit, Dan. Aku sakit… Aku tahu aku nggak akan sembuh lagi. Aku udah terperangkap dalam tubuh ini dan nggak bisa keluar.”

Daniel ragu, ia tidak tahu apa hubungan ini masih bisa diteruskan atau tidak. Kalaupun hubungan ini berhasil, apakah Daniel bisa menerima Gege seutuhnya dengan segala kekurangan yang ia Gege miliki?

Tidak, ia menyadari dirinya tidak siap. Mentalnya tidak cukup kuat untuk menghadapi masa lalu Gege. Memang manusia tidak akan bisa maju kalau hanya melihat kebelakang, melihat ke masa lalu yang menyakitkan, tetapi mau tidak mau masa lalu seperti itu akan terus menerus menghantui Gege, membuatnya merasa bersalah dan tidak layak sepanjang waktu. Dan jika ada yang mau pada Gege dan masalalunya, orang itu pastilah sangat baik hati. Orang itu pasti sangat hebat.

Perkara pacaran, bukan hanya sekedar mengenal, saling memahami dan menikah. Tetapi lebih kepada orang yang akan dijadikan teman hidup itu mampu menerima keadaan dan kekurangan pasangannya. Apakah ia mampu menjadi seorang teman di dalam susah dan senang? Apakah ia bisa menjadi seseorang yang dapat diandalkan? Atau hanya sebagai pajangan untuk dipamerkan pada setiap orang dan berkata, “lihat, pacarku cantik kan?” Apakah ia akan menjadi seorang sahabat yang menaruh kasih disetiap waktu?

Belum lagi kebiasaan buruk yang masih dilakukan pasangannya. Apakah seorang pasangan hanya bisa marah-marah dan menyuruh pasangannya yang memiliki kebiasaan buruk untuk berhenti seperti Gege yang masih merokok? Ataukah dia akan berusaha mengingatkan pelan-pelan untuk menghentikan kebiasaan itu dengan sabar mengingat sebuah kebiasaan itu adalah hal yang sulit untuk diperbaiki?

Ya memang… Mungkin mentalku tidak cukup kuat untuk hal itu…

—————-to be continued——————-