Cerita sebelumnya:
Bertempat di sebuah Gereja beraliran kharismatik, dimana terdapat istilah WL (Worship Leader), WL adalah orang yang bertugas menjadi leader puji-pujian dan penyembahan dalam sebuah kebaktian. Untuk Gereja karismatik, WL merupakan posisi yang cukup berpengaruh dalam ibadah dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi WL.
Saat seorang perempuan muda datang ke Gereja tersebut, beberapa hal unik terjadi dalam kehidupan pelayan-pelayan didalam Gereja. Kehidupan kelam perempuan itu menghantarkan dia ke dalam sebuah penolakkan terselubung dari teman-teman sepelayanannya.
Beberapa hal unik yang diluar kendalinya terjadi. Hingga suatu penyakit hinggap pada dirinya.

Chapter 4

Image Hosted by UploadHouse.com

“Dok, saya masih kuat berdiri, kenapa saya harus rawat inap?” Protes Gege pada dokternya.

“Berapa lama lagi kamu akan seperti ini terus, Grace? Kamu lupa cek darah. Sedangkan kondisi kamu sudah menurun drastis. Hari ini juga sampel darah, urin, tinja dan dahak kamu akan saya ambil. Sementara ini, kamu istirahat dulu disini,” kata Dokter Melky sambil membetulkan letak selimut Gege. “O iya, rontgent juga!”

Darah yang muncrat di setir mobil tadi membuatnya ngeri. Ya benar. Ia juga tidak tahu bagaimana caranya ia bisa sampai di rumah sakit dengan selamat, mobilnya juga masih terlihat utuh beserta barang-barang yang didalamnya. Tidak ada hilang atau lecet sama sekali.

Kepalanya masih pusing karena terlalu banyak batuk. Dadanya terasa keram dan tangan kakinya dingin sekali. Hari itu Gege merasa benar-benar tidak baik. Tubuhnya dan mentalnya. Ia agak stress

“Dok, jangan bilang siapa-siapa kalau saya di sini.”

Dokter Melky mengangguk dan pergi. Kemudian seorang perawat yang masuk, membawa suntikkan dan botol-botol kecil untuk menampung sampelnya.

Baru dua hari di rumah sakit, Gege sudah merasa tidak nyaman. Terlebih lagi ia harus absen kuliah untuk memulihkan kondisi. Ia berharap jangan lama, karena ia tidak ingin sakit ibadah Youth hari sabtu, ibadah minggu atau latihan di hari rabu. Ia sangat menyukai aktifitas-aktifitas semacam itu. Kalau tidak melakukan hal itu ia merasa ada sesuatu yang hilang, dan ia akan merasakan kerinduan dan penyesalan yang luar biasa. Entah merindukan apa, ia tidak tahu. Terkadang disaat sepi dan tidak ada kerjaan, ia ingin sekali pergi ke Gereja, kalau perlu ia ingin tidur disana, menikmati tempat itu dan bernyanyi sepuasnya…

Ibadah Youth malam itu dipimpin oleh Moses tanpa Gege. Gege dianggap tidak sehat sehingga ia dilarang pelayanan. Di kursi jemaat tadi, Gege duduk ditemani Debi, wajahnya sudah pucat sekali. Debi menjaga Gege, ia takut Gege pingsan lagi atau batuk keras.

“Asli gue ngerasa enak banget feel-nya,” kata Moses girang selesai ibadah Youth. “Lihat ga tadi anak-anak? Girang n sukacita banget!”

Daniel manggut-manggut mendengarkan Moses yang sedang bersemangat. Ia terlihat pura-pura mendengarkan.

“Tadi pas gue gini bla bla bla….” Moses menjelaskan panjang lebar pada Daniel. Daniel mendengarkan Moses bercerita bangga, seperti Daniel tidak ada disana saja. Padahal Daniellah yang memainkan keyboard. Sempat Daniel menggerutu dalam hati, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya.

Daniel menoleh ke kiri, dan mendapati Gege sedang duduk sendirian didekat tangga. Gege terlihat termenung, memikirkan sesuatu. Ia sendirian, selalu sendirian. Jarang jalan-jalan, ia juga jarang berbincang-bincang dengan orang-orang sekitarnya sehingga terkadang banyak orang yang berpikiran buruk terhadapnya. Tetapi Daniel tidak memikirkan itu. Ia justru kasihan padanya. Mungkin saja ia memiliki masalah yang ia pendam sendiri. Bagi seorang manusia, bukankah itu hal yang tidak baik untuk menyimpan semuanya sendiri. Ia perlu teman untuk berbagi, namun wajahnya menunjukkan kekokohan dan kekerasan hati. Mungkin itu cuma pikiranku aja, kata Daniel dalam hatinya.

Memang benar, Gege memikirkan sesuatu. Ia memikirkan segala kemungkinan yang terjadi pada dirinya setelah serangkaian tes yang hampir membuatnya muntah karena bau obat tercium dimana-mana.

Ia takut akan sesuatu. Ia sangat takut. Ia kuatir. Hanya saja segala kekuatiran ini membuatnya stress. Tetapi kalau kekuatirannya ini benar, ia tidak tahu bagaimana hidupnya nanti. Namun apa yang ia takutkan? Ketakutan ini sungguh tidak masuk akal. Ia sendiri tidak tahu takut karena apa. Ia hanya mengkuatirkan suaranya. Ia ingin suaranya tetap bagus, hanya itu.

Gege pulang ke rumah dan meletakkan seluruh barang-barang yang ia bawa begitu saja di lantai. Ia tidak ingin makan, ia tidak ingin melakukan apapun. Banyak hal yang ia pikirkan yang menyesakkan isi otaknya. Seandainya bisa, ia ingin mengeluarkan otaknya dan mencucinya hingga bersih, lalu memasangnya kembali di kepalanya.

Lalu ia merasa dadanya sesak, dan sakit. Tetapi ia masih bisa menahannya sekarang, ia tidak tahu sampai kapan ia akan terus begini, ditambah lagi kondisinya sama sekali tidak jelas.
Gege berdiri didepan cermin dan membuka baju hemnya yang ia lapis dengan singlet putih. Terlihat jelas ditangannya terdapat banyak luka sayatan yang cukup dalam. Luka-luka itu terlihat cukup lama mengering. Kalau tidak karena luka ini, Gege tidak akan memakai baju lengan panjang setiap hari, setiap saat, kecuali di kamar kost.

Gege menutup matanya. Keningnya mengkerut. Ia teringat masalalunya yang kelam., sedih, hina. Tidak ada yang mau menerimanya. Tidak ada!

Dulu ia memiliki kekasih. Tetapi laki-laki itu meninggalkannya demi wanita lain. Laki-laki itu membuatnya hancur, ia sakit karena cinta. Dan kuliahnya tertunda satu tahun. Dalam umurnya yang ke 22 ini, ia masih tertahan di semester 6.

Orang-orang yang dicintainya, mengkhianatinya, meninggalkannya dan mencampakkannya ke jurang tanpa dasar. Akankah ia memiliki sayap untuk terbang dan keluar dari dalam jurang itu? Jurang dosa yang hampir seluruh manusia menikmatinya, bahkan mereka tidak mencoba keluar.

Padahal disana-sini, Gege melihat lendir kenajisan, asap dosa yang menyesakkan dan tangan-tangan iblis tak terlihat, berubah menjadi rantai yang dikalungkan di leher setiap orang yang menyukainya. Dulu ia diikat rantai itu. Namun ia sendiri tidak tahu apa rantai itu masih mengikatnya, seperti anjing agar tidak lepas atau lari dari rumah.

Rantai itu banyak, ia tahu. Bukan hanya satu iblis, tetapi banyak. Iblis itu naik ke atas dan menggoda orang-orang yang masih belum terjamah tangan dan rantainya. Iblis sangat menyukai manusia, dan manusia juga banyak yang menyukai iblis sehingga merelakan dirinya menjadi tawanan iblis. Mereka diikat, dan mereka menikmati jerat iblis. Tanpa mereka sadari, mereka terlihat seperti hewan. Dan Gege merasa jijik akan hal itu.

Tangannya tiba-tiba gemetaran. Hidungnya berair dan matanya memerah. Ia mengingat semua itu dan menjadi terguncang. Sesuatu dari masa lalunya memanggil-manggil agar Gege kembali.

Gege merasa kedinginan, seperti ada tangan yang menarik wajahnya untuk menoleh ke sebuah benda kecil tajam.
Cutter dengan darah kering.

Ia lalu menggigil dan merasa tubuhnya dingin, napasnya menderu, dan ia memegangi tangannya yang penuh luka sayatan. Aku harus tahan, harus tahan!

Namun ia tidak bisa menahan dirinya. Ia mengambil cutter dan berjalan perlahan ke pojok ruangan, ia duduk dilantai antara lemari dan ranjangnya. Tubuhnya makin menggigil, ia merasa diguncang, diguncang oleh suatu perasaan yang tidak ingin dirasakannya lagi. Rasa ini terlalu pahit, dan ia tahu kalau ini tidak baik. Ketergantungan narkoba ini membuat dirinya larut. Ia merindukan kokain, oxy, ganja…

Dikamar kostnya tidak ada narkoba, obat penenang, atau sejenisnya. Hanya darah. Apa yang bisa dilakukannya untuk mengeluarkan darah tersebut?

Tentu saja, Gege sangat menikmati…

* * *

Grace masuk Gereja pada hari minggu sore. Ia masih merasa malu, apalagi setelah kemarin malam. Padahal sebenarnya tidak perlu merasa malu, karena siapa memangnya yang melihat ia menyayat tangannya? Tetapi tidak tahu kenapa, ia merasakan hal itu tidak baik. Itu dosa. Dan ia yakini sekarang mata Tuhan menyorotinya dengan tajam.

Sejak SMA, ia sudah menjadi junkies. Kokain, shabu-shabu, ganja, sudah jadi makanannya sehari-hari. Itu semua ia dapatkan dari kakaknya yang telah menjadi bandar narkoba semejak lulus SMA. Barang itu dapat dengan mudah ia dapatkan dari kakaknya. Walaupun ada syarat yang harus Gege penuhi untuk mendapatkan barang itu, syarat itu tidak pernah ia permasalahkan sampai ia bertemu laki-laki yang meninggalkannya demi wanita lain itu. Dia Kristen dan selalu mengajak Gege ke Gereja. Tetapi tak disangka, rajin ke Gereja hanya sebuah kedok. Nyatanya tidak ada yang bisa tahu isi hati manusia itu seperti apa.

Gege tahu ini salah, ia menyesal. Tapi tak dipungkiri kemarin ia tidak bisa menahan. Dan ia mengakui itu semua. Sepanjang ibadah, Gege terus dihantui rasa bersalah. Air matanya tak henti-hentinya mengalir saat doa dan pujian penyembahan dilantunkan. Hatinya selalu berteriak minta ampun… Rasanya sakit sekali. Ia seperti ingin merobek seluruh isi dadanya dan mengeluarkan jantungnya yang merah dipenuhi darah dan dosa.
Saat altar call, tubuhnya seperti bergerak sendiri, ia maju dan berlutut. Kakinya tak mampu lagi berdiri menahan beban dosa yang melekat disekujur tubuhnya, ia hampir tersungkur. Dan di saat itulah ia berteriak minta ampun. Ia tidak dapat mengendalikan dirinya, walau ia kelihatan seperti orang gila, ia merasakan Hadirat yang begitu luar biasa. Segala puji dan hormat bagi Tuhan!

* * *

Gege duduk dan meminum tehnya. Matanya sayu karena tidak tidur semalaman. Besok, Senin, dokter memintanya datang ke rumah sakit sekitar jam 10 pagi untuk memberitahukan hasil pemeriksaannya.

Dokter Melky memiliki diagnosa kalau pasiennya itu terkena bronkitis, namun dokter belum bisa memastikan sebelum seluruh sampel selesai diteliti. Gege sempat bingung, kenapa hasil pemeriksaan itu begitu lama.
Dokter Melky memang mengatakan kalau akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Tetapi Gege merasa kalau bukan itu penyebabnya mengapa hasil pemeriksaannya begitu lama keluar.

Tenggorokannya semakin sakit. Terkadang sesak napas, nafsu makannya juga menurun dan napasnya semakin pendek. Seperti orang asma, tetapi Grace tidak pernah memiliki riwayat asma. Namun sekarang ia selalu membawa oksigen kemana-mana. Dan hal itu memang disarankan oleh dokter. Terkadang ia bisa sesak napas, dan hal itu sangat menyiksa.

Dan besoknya Gege ke rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaannya.

Dokter Melky memperhatikan sebuah hasil rontgent paru-paru dan melingkari dengan spidol bagian yang berwarna keputih-putihan dari foto tersebut. Ia merasa sangat lelah hari ini karena terlalu banyak berpikir. Awan kebingungan menaungi hatinya. Ia lalu melihat kertas-kertas hasil pemeriksaan seseorang. Banyak kertas yang ia teliti

“Gimana dok?”

Dokter Melky mengambil hasil rontgent-nya dan memperlihatkan keadaan paru-parunya.

“Lihat ini,” katanya sambil mengarahkan sebuah cahaya merah kecil pada foto rontgent itu. Dokter Melky menunjukkan paru-paru yang penuh dengan lubang-lubang kecil sementara Gege hanya terdiam menunggu penjelasan dari dokter. “Lalu perhatikan yang ini,” katanya lagi sambil menunjuk ke bagian tengah paru-paru sebelah kiri dekat bronkus. Disana terdapat warna putih yang melebar dan bentuknya tidak rata.

“Apa tuh dok?”

“Ini tumor,” kata Dokter Melky.

“Artinya?”

Dokter Melky menghembuskan napasnya satu kali dengan berat. Dokter Melky tahu kalau ini sudah kesekian kalinya ia memeriksa pasien yang mengidap penyakit seperti ini dan menyaksikan mereka meninggal satu per satu. Sangat ironis. Ia sering bertanya mengapa manusia itu sangat bebal. Manusia melakukan hal-hal konyol untuk merusak tubuh mereka. Bukankah tubuh manusia adalah bait Allah yang harus dijaga? Tidak sadarkah mereka betapa pentingnya arti kesehatan itu?

Sepanjang sejarahnya sebagai dokter, tidak pernah satu kali pun ia tidak menangis saat seorang pasiennya meninggal dunia. Ketika melihat seluruh keluarga menangisi kepergian si pasien, hal itu adalah hal terberat dalam hidupnya. Dan saat ia tidak bisa membantu pasien menyembuhkan penyakitnya, itu merupakan penyesalan terbesar dalam hidupnya. Betapa ilmu pengetahuan yang ia miliki tak selamanya bisa membantu sesamanya. Ilmu pengetahuan tidak cukup untuk mempertahankan hidup manusia. Hanya Tuhan yang bisa, memang hanya Tuhan saja.

Sebagai manusia, ia juga memiliki batas. Ia memang bisa menolong orang lain, menolong orang yang sakit, tetapi biar hebat bagaimana pun ia, ia masih manusia. Manusia yang sosial, yang tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan ornag lain agar bisa saling membantu.

Melihat wajah-wajah sedih pasien membuat hatinya miris, hatinya sakit, ia bisa merasakan penderitaan pasiennya. Namun apa yang bisa ia lakukan? Memberikan obat-obatan dan cara-cara untuk menyembuhkan penyakit pasiennya? Tetap saja itu tidak cukup! Tetap saja pasien itu akan mati!

Namun ia harus memberitahukan anak muda yang ada didepannya ini. Walau bagaimana pun, ia harus mengetahuinya.

“Grace…”

“Ya…?”

———-to be continued————