Cerita sebelumnya:
Bertempat di sebuah Gereja beraliran kharismatik, dimana terdapat istilah WL (Worship Leader), WL adalah orang yang bertugas menjadi leader puji-pujian dan penyembahan dalam sebuah kebaktian. Untuk Gereja karismatik, WL merupakan posisi yang cukup berpengaruh dalam ibadah dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi WL.

Saat seorang perempuan muda datang ke Gereja tersebut, beberapa hal unik terjadi dalam kehidupan pelayan-pelayan didalam Gereja. Kehidupan kelam perempuan itu menghantarkan dia ke dalam sebuah penolakkan terselubung dari teman-teman sepelayanannya.

Beberapa hal unik diluar akal sehatnya terjadi. Dan beberapa keanehan di tubuhnya mulai muncul. Ia jadi sering pingsan dan batuk-batuk. Kesemuanya itu membuatnya tertekan dan mencari pelampiasan yang tidak baik, yaitu merokok.

Chapter 3…
By: Eva Sumasa

Image Hosted by UploadHouse.com

Gege menyandarkan dirinya di mobil. Ia merasakan tekanan dalam dirinya. Sesuatu yang sulit diterima akal sehat. Atau memang akal sehatnya yang tidak mau menerima sesuatu itu?

Lalu ia berjalan ke samping kiri mobil yang terparkir di sisi jembatan tepat disamping trotoar sebelah kiri. Ia melihat ke kaca spion dan memandang wajahnya.

Betapa kasihan hidup gadis dalam kaca itu, pikirnya. Lalu ia melihat puntung rokok ditangannya sejenak. Aku stress, katanya dalam hati sambil menghisap rokok itu. Ia lupa kapan ia mulai pertama merokok. Yang jelas ia ingat saat SMP, diajak oleh Egy yang waktu itu sudah SMA. Dan ia rata-rata bisa menghabiskan 2-3 bungkus rokok tiap hari.

Benda kecil membara itu ia hisap lagi. Mulutnya membentuk huruf “o”. Lalu terlihat semburan asap berbentuk bundar. Sudah berapa kali ia mencoba berhenti tetapi sulit. Apalagi di masa krisis dalam dirinya seperti saat ini, ia merasa lebih sulit lagi untuk berhenti. Tangannya ingin terus memegang rokok dan tubuhnya tidak ingin berhenti menghirup asapnya yang menyakitkan. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengurangi stress ini.

Sekarang ini, ia memang benar-benar butuh waktu untuk sendiri.
***

Minggu itu, Gege memilih mengambil kebaktian sore, dimana gedung gereja itu tidak penuh seperti kebaktian pagi. Semua yang terjadi padanya sekarang ini membuatnya minder untuk menampakkan diri didepan orang banyak. Belum lagi hari ini ia merasa benar-benar tidak sehat.

Tanpa disangka, seseorang lalu duduk disampingnya.

Egy.

Mata Gege terbelalak, jantungnya berderu kencang. Badannya mulai panas dingin dan ia ketakutan. God, what should I do?
***

“Eh dia sadar,” kata seseorang yang sangat familiar.

Wajah-wajah itu terlihat samar-samar. Lalu tidak berapa lama menjadi jelas. Debi memperhatikannya dengan kening mengerut. “Ge, kamu baik-baik aja?”

Gege memegangi kepalanya dan beranjak duduk. “Aku pingsan lagi ya?” Katanya sambil melihat-lihat sekeliling, menatap beberapa wajah yang kebanyakan teman sepelayanannya. Lalu tatapannya terpaku pada satu orang yang sedang berdiri di pojok ruangan.

Mata orang itu berbinar-binar menatapnya. Namun Gege membalas tatapan mata itu dengan penuh kejijikan. Aku jijik melihatmu Egy, aku jijik.

Lalu terlihat Moses mendekati orang itu, “Mas anter aja pulang. Kasian, kayaknya nggak sehat.”

“Aku nggak mau pulang,” potong Gege.

“Mereka benar dek, kamu harusnya pulang. Ayo abang antar,” kata Egy sambil menarik tangan Gege dengan lembut.

Gege langsung melepaskan tangan Egy dari tangannya, “aku mau pulang sendiri.”

“Ayolah Gege, kamu itu nggak sehat,” kata Debi.

Egy menghembuskan napasnya, “oke. Tapi nanti kalau ada apa-apa, kamu hubungin abang ya.”

Gege memperhatikan Egy yang berlalu dengan dendam yang menancap dalam dihatinya.
***

“Disini ya?” Tanya Moses sambil menyetir mobil.

Gege hanya mengangguk lemah menjawab pertanyaan Moses.

Sebuah rumah besar dengan dua lantai terlihat di ujung jalan. Moses masuk ke halaman rumah besar itu dan memberhentikan mobilnya di pelataran.

“Makasih sudah antar aku ya,” kata Gege sambil membuka pintu.

“Gege tunggu,” kata Moses.

Gege menoleh dan melihat Moses menatapnya dengan serius hingga ia kembali ke posisi duduknya yang tadi dan menutup pintu. Moses menatap setirnya dengan canggung dan mengendus. “Kemarin aku ngikutin kamu ke jembatan.”

Gege menoleh ke arah Moses dan menunduk. “Kenapa kamu ngikutin?”

“Aku penasaran. Cuma itu. Jujur aku nggak suka dari awal sama kamu.”

“Kenapa?”

“Kamu cepat banget bergaul. Kamu sering berinteraksi sama temen-temen dibandingkan aku sendiri yang sudah lama berGereja disana.”

“Terus?”

“Aku mengharapkan ada yang bisa nemenin aku di tim WL. Dan Kak James rekomendasikan kamu. Terus terang aku ingin yang menjadi WL adalah orang-orang yang benar-benar mendedikasikan diri untuk melayani Tuhan sepenuh hati. Mengerti maksudku?”

Gege menggeleng.

“Kemarin aku lihat kamu ngerokok…”

Mendengar hal itu, Gege berpaling muka.

“Aku bukan pendeta yang bisa nunjukkin ayat dalam Alkitab tentang larangan rokok. Tapi kamu tahu kan? Rokok itu nggak baik. Untuk seorang pelayan apalagi dia wanita. Jujur aja, aku hampir ilfeel kemarin.”
Gege menghembuskan napasnya. Ia masih terlihat lemah dan agak letih. “Sudah?”

Moses mengangkat wajahnya dan menoleh pada Gege.

“Thanks ya,” kata Gege sambil membuka pintu dan keluar dari mobil itu dengan gusar.

Kenapa mereka suka sekali mengetahui urusan orang?
***

Hari ini kepala Gege terasa lebih pusing dari biasanya. Batuknya juga belum berhenti. Obat-obatan yang diberikan dokter terasa tidak mempan lagi. Seakan-akan tubuhnya mengetahui kalau obat itu bukan obat yang tepat. Penampilannya juga terlihat lebih berantakkan dan urak-urakkan.

Entah kenapa ia sering pingsan. Memang ia merasakan lemah yang tidak biasa belakangan ini. Minyak kayu putih dalam botol kecil kini selalu dibawa-bawa oleh Gege kemanapun dia pergi. Termasuk ke ruang kuliah dan Gereja dimana mereka biasa latihan saat hari rabu sore.

Saat ini, Gege ditugaskan menjadi singer. Ia merasakan kalau AC diruangan itu sangat dingin, tapi tidak untuk badannya, hanya kepala.

Debi memperhatikan Gege yang kepalanya berkeringat hingga ke leher. Keringatnya sangat banyak, membuat rambutnya sedikit terlihat lembab. “Gege, kamu kayaknya dari minggu kemarin nggak sehat banget. Kamu udah periksa?”

Gege mengambil sapu tangan dari kantungnya dan melap keningnya, “Aku nggak apa-apa Deb.”

“Ayolah, jangan keras kepala gitu. Badan kamu panas dingin. Mungkin kamu tifus. Sakit perut nggak?”

Gege sekali lagi menjawab, “Nggak.”

Debi menatap Gege dengan kening mengkerut. “Ya udah.”

Saat menyanyi, segalanya jadi tidak maksimal. Kerongkongan Gege terasa sangat kering dan gatal. Suaranya jadi lebih serak dari biasanya.

Namun setiap lagu yang terdengar didalam ruangan itu, yang dinyanyikan olehnya dan teman-teman, membuatnya merasa nyaman. Lantunan musik dan pujian itu seperti angin semilir bagi setiap penikmat indahnya hadirat Tuhan yang selalu membawa aroma yang baru dalam setiap warna kehidupan. Ia tidak ingin berhenti bernyanyi.

Sejenak, Gege lupa dengan sakit yang melanda dadanya, namun tenggorokkannya selalu melolong, seolah-olah ingin lepas dari lehernya. Namun semakin lama, tenggorokkannya semakin sakit.

Kemudian sakit itu menjalar ke dada, punggung, hingga kepala. Di tengah latihan, sesekali Gege memalingkan wajah kebelakang dan batuk-batuk. Debi memperhatikan hal itu dan memberikan tissue padanya. Gege menggumamkan terimakasih tanpa suara pada Debi yang tersenyum sambil bernyanyi.

Moses melihat hal itu dan mulai teralih perhatiannya pada Gege. Apa yang terjadi pada orang ini, yang jelas ia tidak tahu. Apakah kata-katanya kemarin terlalu keras pada Gege sehingga Gege kepikiran dan sakit? Jelas bukan. Gege sakit mulai dari minggu lalu, bukan baru kemarin. Tetapi mau tidak mau, pikiran tentang kondisi Gege terus berkelebat dalam otaknya.

Selesai latihan, seperti biasa, Gege selalu ingin ditinggal sendirian dengan alasan ingin berlatih menyanyi sendirian. Teman-teman yang lain mengerti sehingga tidak ada satupun dari mereka yang tinggal.
Sesekali Gege mencek keluar ruangan kalau-kalau ada yang mengintip atau menguntitnya lagi. Gege tidak suka.

Lalu ia mengeluarkan buku yang Debi berikan padanya untuk dipelajari sendiri. Ia duduk di kursi dan mengambil sebuah gitar angin. Setelah mendapatkan lagu yang ia mau, ia meletakkannya di meja dan mulai memainkan kunci awal.

Masih sesekali ia batuk hingga permainan gitarnya terhenti beberapa kali. Tuhan, tolong, kali ini aku mau belajar.

Tiba-tiba dadanya mulai sakit, tenggorokkannya juga terasa lebih gatal. Ia mengambil tissue yang diberikan Debi tadi, menutup mulutnya dan mulai batuk. Inilah batuk paling keras yang ia rasakan.

Ia melepaskan tissue itu dan melihat permukaannya.

Darah…

Gege menelan ludahnya. Di benaknya tersirat ketakutan yang luar biasa. Suaranya tercekat. Ia diam membisu sambil menatap bercak darah yang masih segar di tissue bekas batuknya tadi.

Lalu tiba-tiba seseorang memunculkan kepalanya dibalik pintu dan Grace langsung menoleh saking kagetnya.

“Oi Grace, anak-anak mo ke mall. Ikut nda?” Tanya Daniel ceria.

“Nggak bro, lu aja, aku mo disini sementara,” jawab Gege sambil menyembunyikan tissue itu dibalik buku.

“Okelah, gue caw ya….” Daniel menutup pintu.

Lalu seorang perempuan tinggi dan bertubuh ideal masuk. Debi.

“Halo Grace,” katanya ramah.

“Hai Deb,” jawab Gege sambil membuang tissue itu sebelum Debi melihat, lalu ia kembali duduk dan mengambil gitarnya. Debi sendiri mengambil posisi di kursi keyboard dan memainkan sebuah kunci.

Gege mengikuti kunci itu dengan memetik gitarnya. “Mau nyanyi bareng?”

Debi memainkan sebuah intro yang Gege tidak tahu lagu apa itu. Lagu-lagu Gereja merupakan hal baru baginya. “Ini lagunya One Way, judulnya Melodi Hidupku. Tau One Way nggak?”

Dengan polosnya, Gege menggeleng.

“Itu salah satu band rohani Ge. Coba yuk.”

Dengan lembut, Debi mengalunkan setiap kunci dalam keyboard itu, menekan tuts-tutsnya dengan perasaan dan bernyanyi. Ini hal yang paling Gege kagumi, karena setiap orang dalam Gereja pasti dikaruniakan talenta yang luar biasa. Walaupun ia terlihat tidak bisa apa-apa, pasti ada sebuah talenta yang tersimpan dalam dirinya. Hanya jika kita mau Tuhan bentuk, segala yang sederhana pasti akan menjadi lebih indah dihadapanNya.

Bahkan setiap lirik dalam lagu ini, sangat menyentuh. Gege menyadari hidupnya tidak berkenan dihadapanNya. Apalah yang bisa Gege lakukan untuk menyenangkanNya? Hanya suara yang ia miliki, hanya suara…

“Ge,” panggil Debi. Wajah Gege terangkat. “Ada yang mau kamu ceritakan?”
***

Malam itu, setelah batuk darah, Gege langsung pergi ke dokter. Ia langsung ke prakter dokter spesialis paru.

“Besok kamu cek darah,” kata dokter itu sambil menyerahkan sebuah surat rekomendasi. “Surat ini kamu bawa, terserah kamu mau cek dimana. Surat ini berlaku di rumah sakit dan laboraturium dimana saja. Kalau kamu mau, kamu juga bisa ke lab saya di Jl. Hassanuddin. Sementara ini saya kasih antibiotik dan obat batuk untuk jangka waktu dua sampai tiga hari.”

“Terimakasih dok,” kata Gege sambil menerima surat itu dan menyimpannya dalam dompet.

Segalanya masih abu-abu, kabur… Gege mengemudikan mobilnya hingga sampai disebuah tempat yang tak pernah terpikir olehnya.

Rumah Egy.

Ternyata tempat dokter praktek itu tidak jauh dari rumahnya yang dulu. Hanya beberapa blok dengan jalan yang berbelok-belok.

Lalu ada seorang laki-laki keluar dari rumah itu, membuat Gege terkejut dan lekas-lekas menderu mobilnya pergi. Ia tidak mau bertemu laki-laki itu. Sejenak, ia mengingat-ingat masa lalu, dimana dirinya larut, hancur, dan tersentak di tanah kekelaman yang mengeluarkan lendir kejijikan bagi setiap manusia yang melayangkan visi padanya. Setiap hari, ia merasa semua orang yang melihatnya seakan-akan menyuruhnya pergi ke pojok untuk dipukul beramai-ramai, seperti perempuan sundal yang dirajam.

Meskipun hatinya masih menyimpan sedikit rasa sayang terhadap kakaknya itu, namun lubang yang kakaknya buat dihatinya terlanjur berdarah dan membusuk. Apakah ini yang dinamakan akar pahit?

Ia merasa tubuhnya menggigil kedinginan. Dingin karena rasa benci, atau sakit? Namun ia merasakan sesak dinapasnya dan memberhentikan mobilnya tepat di sebuah apotik. Oksigen, aku memerlukan oksigen…
* * *

“Nggak!!!!!!!!!!!!!!!!”

“Ge!” Panggil seorang wanita.

Gege melihat siluet seorang wanita muda. Seorang wanita muda berperawakan semampai ada dihadapannya.

Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, Gege menatap Debi dengan bingung. “A-apa?”

“Kamu ketiduran Ge,” kata Debi sambil menggosok-gosokkan minyak kayu putih ke leher Gege. Suhu badan Gege panas dingin, hingga tubuhnya dibalutkan selimut.

Lalu ia teringat kalau hari ini adalah hari rabu. Saat sedang istirahat latihan, ia pergi ke ruang tamu dibawah gereja dan ternyata tertidur disana. “Anak-anak mana?”

“Masih latihan diatas.”

Mimpi tadi benar-benar membuatnya terguncang. Mimpi yang buruk, di mimpi itu ia tidak bisa bernyanyi. Ia kehilangan suaranya, bahkan di mimpi itu ia bertemu seorang dokter yang memberikan sebuah botol berisi sebuah daging berwarna pink kecil. Dokter itu mengatakan kalau itu adalah pita suaranya.

Itu adalah hal yang paling mengerikan yang pernah ia mimpikan. Suara adalah asset terbesar dalam dirinya. Karena hanya suaralah yang membuatnya bertahan untuk melayani, hanya suaralah yang ia miliki untuk bernyanyi dan masuk dalam lingkungan Gereja. Hanya suara, benar, hanya suara.

Debi lalu mengeluarkan sebuah tissue dengan bercak-bercak darah. “Ini tadi aku temuin waktu kamu ketiduran.”

Tidak tahu harus berkata apa, ia hanya menggeleng pelan sambil menatap tissue itu. Aduh, ini gara-gara aku ketiduran tadi. Harusnya aku buang dulu tissuenya.

“Coba kamu cerita, Ge. Jangan kamu pendam sendiri. Sebenarnya kamu itu kenapa?”

“Aku ISPA.”

“Yakin?”

“Hu um…”
* * *

“Grace,” panggil Moses saat ia sampai dibawah dan bertemu dengan Gege yang masih duduk. Ia termenung, merenungkan dirinya dengan segala kelemahan dalam tubuhnya, membuatnya di rundung sejuta tanya yang akan dijawab oleh dokter setelah cek darah dilakukan. Ia belum melakukan cek darah itu, ia lupa.

Gege menggeser tubuhnya supaya Moses bisa duduk disampingnya. “Ge, kalau kamu sakit, kamu nggak usah melayani dulu.”

Gege langsung menggelengkan kepalanya.

“Kenapa kamu tidur?”

“Aku juga nggak tahu kenapa, mungkin aku kecapean.”

Moses memandangnya sejenak memperhatikan Gege. Lalu tiba-tiba wajahnya memerah dan marah. “Kamu tahu? Aku memang nggak suka sama kamu sejak pertama kali kamu masuk pelayanan disini. Aku tahu kamu itu orang yang nggak baik, bahan kemarin aku ngelihat kamu ngerokok. Apa pantas hal itu dilakukan oleh seorang pelayan? Kamu jangan muna donk!” Katanya dengan nada yang gusar dan volume yang kecil.

“Tahu apa kamu soal muna? Tahu apa kamu soal hidupku?”

Gege lalu terdiam. Ia diselimuti emosi yang sangat tinggi. Ia tidak ingin bertengkar dengan Moses lebih lama lagi. Mungkin Moses akan berbicara hal ini pada anak-anak yang lain. Namun ia tidak perduli. Sebarapa buruk hidupnya, tidak ada yang tahu. Bahkan rokok, itu hanya sebagian kecil dari keburukan hidupnya. Tidak ada yang mengetahui betapa buruknya dirinya.

Betapa hinanya ia dimata manusia, jika mereka mengungkap sisi gelap dari hidupnya. Ia juga sering bertanya, apakan ia masih pantas disebut manusia?

Gege menjauh. Ia pergi dari Gereja itu dengan perasaan kesal dan batuk yang tak kunjung henti. Kepalanya lalu sakit begitu pula dadanya. Ia teringat kalau ia harus cek darah. Tetapi malam-malam begini pastilah tidak ada laboraturium yang buka.

Ia berhenti di pinggir jalan dan batuk keras. Matanya tertutup dan tangan sebelah kiri meremas dada karena saking sakitnya.

Lalu ia membuka mata dan melihat tangannya dan setir mobilnya menempel bercak darah dalam jumlah banyak.

——— to be continued ———–