Cerita sebelumnya:

Bertempat di sebuah Gereja beraliran kharismatik, dimana terdapat istilah WL (Worship Leader), WL adalah orang yang bertugas menjadi leader puji-pujian dan penyembahan dalam sebuah kebaktian. Untuk Gereja karismatik, WL merupakan posisi yang cukup berpengaruh dalam ibadah dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi WL.

Saat seorang perempuan muda datang ke Gereja tersebut, beberapa hal unik terjadi dalam kehidupan pelayan-pelayan didalam Gereja. Kehidupan kelam perempuan itu menghantarkan dia ke dalam sebuah penolakkan terselubung dari teman-teman sepelayanannya.

Ia masih baru dalam dunia pelayanan, dan hanya satu orang teman yang baik padanya. Hingga pada suatu waktu saat selesai latihan, ia menyendiri dan ditemukan tidak sadarkan diri.

 

Amazing Grace

By: Eva Sumasa

Image Hosted by UploadHouse.com

 

Chapter two…

Gege membuka mata.

Segalanya putih sampai wajah-wajah yang ia kenal muncul. Moses, Daniel, dan beberapa teman yang lain. Gege mengenal tempat itu. Ia sedang berada di ruang tamu, di pastori di lantai 3 Gerejanya.

“Ada apa?” Tanya Gege memegangi kepalanya yang pusing.

“Kamu pingsan,” kata Daniel yang berdiri di samping sofa, paling dekat dengan Gege yang sedang terbaring lemah.

Moses berdiri dekat meja tamu sambil menggenggam minyak kayu putih, menyorotinya dengan tajam.

Dengan berat, Gege beranjak duduk dan mendapati lengan tangannya terangkat hingga sayatan-sayatan ditangannya muncul sedikit. Melihat hal itu, Gege langsung cepat-cepat menarik turun lengan bajunya yang panjang.

“Gege, kamu kenapa?” Tanya Debi, gadis tinggi bertubuh langsing dan ideal, ia adalah singer dalam pelayanan tersebut. “Tadi badan kamu aku raba panas dingin loh.”

Wajah pucat Gege menyiratkan perasaan yang masih bingung. Tidak banyak yang ia ingat saat berada di ruang kebaktian khusus pemuda tadi.

Lalu Daniel mengambilkannya teh yang telah disiapkan istri kak James tadi dan memberikannya pada Gege untuk diminum. Gege langsung meminum teh yang masih hangat itu.

“Kita antar pulang ya,” kata Moses menawarkan. Tetapi Gege hanya menggeleng.

“Tadi aku ngerasa aneh loh,” kata Gege tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.

Debi mengangkat alisnya sebelah, “memangnya aneh kenapa?”

“Aku lagi duduk di mimbar, mau nyanyi sendiri. Ada lagu-lagu Gereja yang masih banyak aku belum tahu,” sambung Gege. Ya setidaknya memang itu yang akan kulakukan setelah aku punya waktu untuk sendirian, kata Gege dalam hati. Gege meminum tehnya dan melanjutkan lagi, “aku nggak tahu perasaan dari mana datangnya. Tadi kayak ada yang hangat. Aku ngelihat kayak ada tangan yang merangkul aku waktu aku duduk di lantai mimbar.”

Beberapa dari mereka bertatap muka satu sama lain. “Memangnya tangan siapa tuh,” tanya Daniel.

Gege mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. “Aku cuma ngerasa hangat, dan… tangan itu… Cuma itu yang kuingat.”

“Gege, kamu kayaknya sakit,” potong Moses. Kita bakal antar kamu pulang ya, atau mau ke dokter dulu? Moses lalu membungkuk dan meraba kening Gege.

“Aku kuat, aku bisa pulang sendiri. Aku nggak apa-apa, tenang aja.”

 

Gege pulang ke kostnya. Tubuhnya masih panas dingin. Ia merasakan sesuatu yang tak biasa tadi di Gereja, tapi apa? Hantukah? Monsterkah? Atau itu hanya halusinasi? Tetapi kehangatan yang ia rasakan begitu nyata.

Dokter tadi mengatakan kalau ia mengalami ISPA. Tetapi besok ia diminta ke rumah laboraturium untuk cek darah. Untuk sementara, dokter hanya memberinya beberapa obat dan vitamin.

Gege tidak habis pikir dengan apa yang dialaminya barusan. Apa yang terjadi sebelum ia pingsan? Ia tidak tahu.

 

Seminggu berlalu, kondisi Gege mulai pulih. Cek darah itu tidak ia lakukan, dan ia sengaja tidak kembali ke dokter karena ia merasa lebih baik setelah meminum obat dokter.

Hari ini hari rabu, hari latihan bagi semua pelayan untuk ibadah youth malam minggu dan ibadah utama minggu. Gege yang sudah terlibat dalam tim WL diminta memimpin lagi ibadah youth, tetapi kali ini bersama Debi, sedangkan Moses diminta menjadi singer.

Debi sangat ramah pada Gege. Mungkin dari semua pemuda yang tergabung di pelayanan mimbar, hanya dia yang paling baik pada Gege. Debi tahu kalau Gege masih baru dan belum tahu banyak tentang lagu rohani, sehingga ia menyiapkan sendiri beberapa lagu yang ia anggap sering dinyanyikan untuk dipelajari Gege. Lagu-lagu itu ia tulis disebuah buku tulis, dan ia berikan kepada Gege.

Selesai latihan, Debi yang mahir memainkan keyboard mengajak Gege berlatih sama-sama. Ia terlihat sangat friendly, berbeda dengan Moses.

“Deb, main yok,” kata Moses.

Debi duduk di kursi keyboard dan menggelengkan kepala, “nggak Ses. Aku mo ajarin Gege lagu baru dulu. Lain kali aja ya…”

Moses terlihat kecewa dan pergi tanpa menyapa Gege. Hari ini bahkan Moses tidak berbicara satu patah kata pun pada Gege. Gege sempat heran, tetapi ia tetap menunjukkan senyumnya pada Moses walaupun Moses tidak membalas.

Gege mengira Moses marah padanya, tetapi Gege sendiri tidak mengerti alasannya kenapa. Selama seminggu ini, Gege berusaha menghapus segala pikiran buruk tentang teman-temannya. Selama ini ia merasa banyak teman-teman yang tidak suka padanya. Dan Gege berusaha untuk tidak menilai teman-teman sepelayanannya seperti itu.

Sering timbul perasaan ingin membenci mereka, namun ia ingat bahwa sekarang ia pelayanan untuk Tuhan. Kasih adalah hal yang paling krusial dalam pelayanan, kalau tidak memiliki kasih terhadap sesama terlebih Tuhan, berarti sia-sialah pelayanan itu ada. Walaupun ia baru-baru saja aktif pelayanan dan belum tahu sama sekali unsur-unsur penting dalam melayani, setidaknya hal itu yang ia ingat saat Kak James menyampaikan renungan Firman Tuhan saat ibadah Youth kira-kira tiga minggu lalu, yaitu tentang KASIH.

Suara-suara itu sering muncul dikepala Gege, menghasut Gege untuk membenci mereka semua. Hingga Gege sering merasa sakit kepala karena ingin menghilangkan gemuruh kebencian yang muncul dari awan gelap yang menaungi seluruh pikiran Gege.

Gege menggelengkan kepalanya untuk membuang pikiran itu. Lalu Gege membuka buku dan mendapati beberapa lagu, ada yang dari Nikita, True Worshippers, Sari Simorangkir, dan lain-lain.

Kemudian ada sebuah lagu, Debi tidak mencantumkan siapa yang menyanyikan atau menciptakan lagu ini. Judulnya: Pribadi yang Mengenal Hatiku.

“Yuk coba,” kata Debi sambil memainkan instrumennya. Pertama-tama, Debi yang menyanyikan lagu itu, dari bait awal sampai reff. Kemudian, intro, dan kembali ke bait awal, kali ini Gege mencoba menyanyikan sendiri.

 

Hanya Engkau, Pribadi yang mengenal hatiku

Tiada yang tersembunyi bagiMu

S’luruh isi hatiku Kau tahu

Dan bawaku tuk lebih dekat lagi padaMu

Tinggal dalam indahnya dekapan kasihMu

 

Ada sesuatu yang muncul di benak Gege. Sangat segar. Seperti ada yang menyirami tanah hatinya yang sangat gersang. Terkadang ia merasa ia akan terus menerus mengering, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Rasanya seperti embun di pagi hari, menempel di dedaunan yang baru merekah. Tetesan embunnya lalu turun ke tanah hati yang tandus dan menginginkan air.

Tiap kata demi kata yang terucap dalam lagu ini seperti gergaji yang sedang memotong sebuah kayu yang sangat kokoh, membuat serbuk kayunya menyembur. Kata-kata itu merasuk ke dalam hati yang sekokoh kayu itu dan meresap ke bagian yang paling kering. Tanpa sadar, Gege meneteskan air mata.

 

Hati Gege terus bertanya-tanya kenapa hal-hal aneh seperti ini terjadi. Baginya hal-hal ini terasa aneh dan tidak biasa. Kepalanya pun terasa sakit. Banyak hal-hal yang ia rasakan sungguh diluar akal sehat.

Seperti saat ia pingsan. Siapa yang memeluknya? Atau saat menyanyikan lagu rohani tadi bersama Debi. Apa itu? Perasaan macam apa? Apa ia sedang merasakan hal-hal mistis? Ya segala sesuatu yang mistis bisa muncul dimana saja, artinya… setan dapat muncul dimana saja!

Belakangan ini, tenggorokkannya juga selalu gatal. Frekuensinya batuk pun makin sering. Selama sebulan ia merasakan batuk, tetapi tidak parah, batuk itu juga tidak terus menerus. Meskipun ia merasa lebih baik, ia tetap terbangun setiap subuh dan merasakan nyeri di dada.

Belum lagi telepon-telepon dari Egy, kakaknya setiap hari. setiap hari pula, Gege tidak pernah mengangkatnya. SMS Egy yang baru masuk selalu dihapus, ia tidak perduli SMS itu sudah terbuka atau belum.

Sementara itu, ia lalu mengalihkan setir mobilnya menuju ke sebuah jembatan yang jauh dari kota. Sekitar setengah jam perjalanan untuk sampai ke jembatan itu. Jembatan panjang, lebar dan cukup sepi.

Ia memberhentikan mobilnya tepat diatas jembatan. Dibawahnya terdapat aliran sungai yang sangat dalam dan lebar. Ia menatap ke bawah dan merenung. Pikiran-pikiran yang tadi masih menghantuinya.

 

Moses mengikuti kepergian Gege hingga sampai disebuah jembatan. Ia heran mengapa Gege bisa mengambil hati semua orang. Kak James, istri kak James, bahkan Debi, semua menyukainya. Atau hanya perasaannya yang mengatakan kalau semua menyukainya?

Belakangan ini, Moses juga merasa kalau Debi bersikap lebih acuh dari biasanya. Saat Moses bertanya langsung, Debi menjawab, “ah, itu cuma perasaan kamu aja. Kamu tahu kalau kita kan emang jarang ketemu. Kalau ketemu ya palng-paling kan cuma di Gereja, Ses. By the way, sebenarnya selama ini yang cuek itu kamu. Jujur lho, kamu nggak pernah nyapa aku. Kalau nyapa yang perlu-perlunya aja, ke yang lain-lain juga. Apa lagi sama Gege. Kamu sinisnya ampun deh. Maaf aku mungkin terlalu blak-blakkan. Tapi, mungkin kamu bisa bersikap sedikit lebih perhatian sama orang-orang disekeliling kamu.”

Moses mengakui kalau ia memang bersikap seperti itu. Ia tidak menepis tudingan Debi yang memang memojokkannya. Semua yang dikatakan Debi memang kenyataan dan ia sendiri menyadarinya. Tentu saja, Moses memang manusia biasa, biar betapa sempurnanya ia melayani dan menjadi WL, tetap saja tidak bisa menutupi kekurangannya.

Ya, ia tidak pernah menyapa orang kalau hal itu tidak perlu, yang memang tidak penting. “Lu ya lu, gue ya gue”, merupakan prinsip hidupnya.

Ia melihat sekeliling untuk mencari wadah parkir yang jauh dari jembatan. Lalu ia berjalan ke atas jembatan. Dari jauh, ia melihat mobil besar Gege terparkir. Namun ia tidak melihat dimana Gege.

Ia berjalan semakin mendekat, perlahan-lahan agar tidak ketahuan. Lalu ia melihat salah satu sosok yang sedang berdiri menyandar di sisi depan mobil sambil memegang puntung rokok yang masih menyala.